Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta melaksanakan kerja bakti terpadu Kawasan Malioboro dalam rangka menjaga kebersihan dan kenyamanan di Kawasan Malioboro sebagai kawasan strategis dan cagar budaya bebas "bau pesing", sehingga nyaman dikunjungi wisatawan.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Yogyakarta Dedi Budiono di Yogyakarta, Selasa, mengatakan kerja bakti ini merupakan langkah nyata mewujudkan misi Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo untuk menjaga kebersihan lingkungan dan keindahan Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata, salah satunya di Malioboro ini sebagai tujuan utama wisata di Yogyakarta yang harus terus kebersihan lingkungan dan keindahannya.
"Kegiatan ini sebetulnya bukan semata-mata aksi dari kita, tapi kita ingin memberikan edukasi juga kepada masyarakat, kepada pemilik usaha di sini untuk menjaga lingkungan bareng-bareng. Selain itu, kalau kita dengar ataupun baca di internet itu, banyak yang mengeluhkan Malioboro kotor, Malioboro bau pesing, gitu kan. Nah, ini dua hal ini yang menjadi apa namanya, tujuan kita hari ini secara operasional adalah ingin mengurangi bau, syukur menghilangkan, dan juga menjaga kebersihan," kata Dedi Budiono di sela-sela melaksanakan pemantauan kerja bakti di Kawasan Malioboro.
Ia mengatakan penyebab bau Pesing di Kawasan Malioboro ada dua penyebab. Selain ada endapan kencing kuda yang di "water torrent' yang ada di bawah itu penuh, kemudian meluber ke atas ketika hujan justru lari ke mana-mana.
Yang kedua, tempat pembuangan sampah itu, ada endapan sampah yang sudah cukup lama dan menimbulkan bau. Tempat pembuangan sampah terdiri dua lapis, lapis pertama adalah tempat sampah yang terbuat dari apa namanya batu, kemudian diisi lagi dengan tempat sampah yang secara fleksibel bisa diambil. Di antara itu ada tumpukan sampah menimbulkan bau.
"Ideal sepertinya water torrent di bawah saluran ini perlu ada perbaikan konstruksi juga. Jadi tidak hanya satu-satunya kemudian air kencing kuda masuk di situ, kemudian air hujan juga masuk di situ, tapi harus ada konstruksi yang nanti kita rekayasa sehingga bisa ada mungkin membunuh bakteri, kemudian nanti diuapkan atau apa nanti kita coba," katanya.

Budiono mengatakan pemeliharaan Kawasan Malioboro rutin tiap hari yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan, terutama melalui UPT Pengelolaan Cagar Budaya. Namun demikian, kegiatan kerja bakti seperti ini setidaknya dilaksanakan satu bulan sekali yang dilaksanakan secara massal.
"Dengan kerja bakti massal ini bisa menyentuh titik-titik yang selama ini tidak pernah disentuh melalui perawatan hari-hari itu. Misalkan dengan membuka ini tadi apa water torrent, itu kan ternyata di dalamnya kan ada juga sedimen selain airnya penuh, disedot kemudian setelah disedot selesai, ternyata kan ada sedimen, itu ada tumpukan pasir, lumpur, kemudian juga sampah. Itu tidak mungkin dilakukan kalau hanya mengandalkan perawatan yang sifatnya harian. Kegiatan seperti ini harus diteruskan, paling tidak sebulan sekali untuk pembersihan yang skala besar," katanya.
Lebih lanjut, Budiono mengatakan hasil diskusi dengan praktisi dari Fakultas Teknik Kimia UGM mengatasi masalah pesing di Malioboro dapat dilakukan menggunakan sistem ozon.
"Setelah diurai menggunakan ozon, harapannya terjadi penguapan yang itu tidak lagi mengandung bakteri dan menghilangkan bau tidak sedap atau pesing," katanya.
Budiono juga mengimbau kepada pengunjung atau pun pelaku wisata menjaga kebersihan dan mewujudkan Malioboro bebas rokok. Namun demikian, saat kerja bakti, masih ditemukan puntung rokok di jeruji saluran air padahal sudah disediakan tempat-tempat merokok.
"Jadi saya minta ya para pengunjung mari kita jaga bersama-sama, tidak merokok sembarangan di kawasan Malioboro, kalau mau merokok, merokoklah di tempat yang sudah disediakan. Yang kedua, jangan buang sampah sembarangan. Yang ketiga jangan mengotori lingkungan, jangan merusak lingkungan, mari kita jaga sama-sama," katanya.
Ia juga mengingatkan kepada pelaku usaha dan pelaku wisata harus punya rasa ikut memiliki Malioboro. Malioboro bersih dan nyaman yang menikmati hasilnya di sebetulnya adalah para pemilik usaha, para pelaku usaha transportasi pemilik andong, becak. Harapannya, mereka memiliki rasa memiliki Malioboro, ini adalah rumah kita bersama.
"Kalau tempat ini indah, tempat ini bagus, mereka juga yang akan diuntungkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan kerja bakti terpadu Kawasan Malioboro ini untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan menjaga kenyamanan Malioboro.
"Kegiatan ini adakah kerja bakti bersama, tidak hanya OPD tapi juga pelaku pariwisata juga pelaku wisata, pelaku usaha yang ada di kawasan Malioboro khususnya. Jadi ini menjadi salah satu bentuk kegotong-royongan kita semuanya untuk handarbeni, untuk merasa memiliki Malioboro bersama-sama begitu. Artinya bahwa dengan merasa memiliki Malioboro itu artinya ya kita menjaga bersama-sama, menjaga kebersihan kemudian juga kenyamanan yang ada di Malioboro," kata Yetti.
Selain itu, kata Yetti, kerja bakti terpadu Kawasan Malioboro sebagai upaya menghidupkan kembali semangat gotong royong melalui aktivitas yang sebenarnya dulu sudah dilakukan setiap Selasa Wage, yaitu melaksanakan kerja bakti untuk Malioboro untuk bersama-sama membersihkan Malioboro karena setiap harinya banyak dikunjungi oleh wisatawan.
"Tentu saja perlu jeda untuk beristirahat pelakunya untuk bersama-sama untuk kerja bakti seperti itu. Adanya kegiatan ini, kita mencoba untuk mengaktivasi kembali, menghidupkan kembali semangat gotong royong merawat Malioboro," katanya.
Lebih lanjut, Yetti mengajak pelaku wisata maupun pelaku usaha untuk bersama-sama handarbeni dengan mewujudkan kebersihan dan kenyamanan di Malioboro. Salah satu tujuan utama kerja bakti terpadu adalah pengunjung maupun pelaku usaha lebih memahami dan mematuhi aturan yang ada, seperti kawasan tanpa rokok dan larangan membuang sampah sembarangan. Harapan, terciptanya kawasan Malioboro yang lebih bersih dan nyaman bagi seluruh masyarakat dan wisatawan.
"Jadi kan setelah hiruk pikuk aktivitas setiap hari nah tentu saja kita juga berharap punya punya empati untuk saling menjaga Malioboro dengan lebih baik begitu," katanya.
