"Keluarga Kita" inisiasi "Gerakan Main Bareng" pulihkan interaksi anak

id Gerakan Main Bareng ,Organisasi Keluarga Kita ,Interaksi anak

"Keluarga Kita" inisiasi  "Gerakan Main Bareng" pulihkan interaksi anak

Dina (25) memandu anak-anak memainkan permainan tradisional jamuran dalam kegiatan bermain edukatif pada acara “Main Bareng Keluarga Kita” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026). ANTARA/Sayyida Nafisa

Yogyakarta (ANTARA) - Organisasi nirlaba "Keluarga Kita" menginisiasi gerakan "Main Bareng" di Yogyakarta sebagai upaya memulihkan interaksi antara orang tua dan anak yang kian tergerus oleh dominasi layar gawai di lingkungan domestik.

Kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu, tersebut dirancang khusus untuk membuktikan bahwa aktivitas sederhana tanpa stimulasi digital mampu memberikan kepuasan emosional yang lebih mendalam bagi tumbuh kembang anak.

Direktur "Keluarga Kita" Siti Nur Andini menekankan bahwa di era saat ini, tantangan terbesar keluarga bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan hilangnya momentum "kehadiran utuh" orang tua saat bersama anak.

"Bermain bersama tanpa layar adalah bentuk cinta paling sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi tumbuh kembang anak," katanya.

Pada kegiatan itu seluruh anggota keluarga terlibat, anak-anak mengikuti sesi bermain "Balon Udaraku" serta kegiatan mendongeng bersama Komunitas Lareplay yang dikemas dengan permainan, balon terbang, dan aktivitas kreatif, untuk menstimulasi tanpa gawai.

Para orang tua mengikuti talkshow bertajuk Orangtua Cerdas di Era Digital yang membahas tantangan pengasuhan di era digital, termasuk upaya membangun koneksi emosional agar anak tidak bergantung pada gawai.

Partnership Supervisor "Keluarga Kita" Ika Sari Damayanti mengatakan gerakan ini juga menjadi ajang edukasi bagi para ayah melalui sesi "Main dan Bebikinan".

Menurut dia, kehadiran sosok ayah dalam permainan fisik tanpa layar dinilai mampu menciptakan rasa aman dan kegembiraan yang autentik bagi anak.

"Harapannya lebih banyak lagi keluarga yang punya kesadaran untuk belajar dan memperbaiki visi-misi keluarga mereka," katanya.

Kegiatan yang diikuti 100 keluarga ini menyimpulkan pesan kuat bahwa kebahagiaan anak tidak memerlukan teknologi mahal, melainkan perhatian penuh dan waktu bermain yang bebas dari gangguan notifikasi digital.

Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.