Mengenang Guruji Anand Krishna, Jembatan kemanusiaan lintas zaman

id guruji anand krishna, sosok, tokoh, penulis, satu bumi, satu langit, satu umat manusia

Mengenang Guruji Anand Krishna, Jembatan kemanusiaan lintas zaman

Guruji Anand Krishna. ANTARA/HO-Ist

Yogyakarta (ANTARA) - Tokoh humanis spiritual sekaligus penulis produktif, Guruji Anand Krishna, tutup usia pada 6 Februari 2025. Sosok yang mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk menyebarkan pesan perdamaian dan kesadaran diri tersebut mencapai Maha-Samadhi bertepatan dengan momentum World Interfaith Harmony Week atau Pekan Harmoni Antaragama Sedunia.

Lahir di Surakarta pada 1 September 1956 dengan nama asli Krishna Kumar Tolaram Gangtani, Guruji Anand mengawali perjalanannya sebagai pengusaha sukses di industri perdagangan internasional dan garmen. Namun, titik balik kehidupannya terjadi pada usia 35 tahun ketika ia didiagnosis menderita penyakit leukemia akut.

Di tengah prognosis medis yang suram, ia mengalami transformasi batin setelah perjumpaan spiritual di Himalaya yang kemudian diikuti oleh kesembuhan fisiknya secara misterius.

Pengalaman tersebut mendorongnya meninggalkan dunia industri untuk sepenuhnya mengabdi pada kemanusiaan. Sebagai seorang pemikir, ia telah melahirkan lebih dari 200 judul buku yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, mencakup tema meditasi, kesehatan holistik, kepemimpinan, hingga dialog lintas iman yang disampaikan secara sederhana tanpa sekat dogma.

Pada 14 Januari 1991, ia mendirikan Anand Ashram sebagai pusat pemberdayaan diri dan kesehatan holistik. Melalui lembaga ini, ia menekankan bahwa spiritualitas sejati tidak seharusnya menjauhkan manusia dari realitas dunia, melainkan memampukan setiap individu untuk hadir sepenuhnya dalam masyarakat.

Hal ini tertuang dalam prinsip utamanya, yakni melayani Tuhan dengan cara melayani kemanusiaan dan masyarakat (Serve the Almighty by Serving Humanity & Society).

Kendati pandangan universal dan humanistiknya kerap menghadapi kesalahpahaman, Guruji Anand senantiasa meresponsnya dengan ketenangan batin.

Ia berkeyakinan bahwa spiritualitas yang benar tidak memupuk rasa merasa paling benar, melainkan menghapuskan ego. Hingga akhir hayatnya, warisan pemikiran Guruji Anand Krishna terus hidup melalui jutaan orang yang memegang teguh visi "Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia" demi terciptanya keselarasan global dan ketenangan batin, cinta kasih terhadap masyarakat dan keselarasan global.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.