
Psikiater: Puasa Ramadhan kesempatan meregulasi emosi

Ia menjelaskan Ramadhan sebagai pengendalian diri tidak makan dan minum, menahan amarah, ucapan yang menyakiti, dan dorongan reaktif.
“Impulsif belanja takjil, persiapan Lebaran itu termasuk dorongan reaktif,” ujarnya.
Terkait dengan emosi, katanya, sebagai respons alami tubuh dan pikiran terhadap suatu peristiwa.
Ia mengatakan emosi sebagai hal wajar, tetapi tidak dinormalisasi dengan membiarkan emosi meledak-ledak hingga melukai diri sendiri dan orang lain sehingga perlu meregulasi.
“Hubungan antara puasa dan emosi yakni melatih pengendalian diri, meningkatkan kesadaran emosi, membentuk kesabaran dan empati,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa meregulasi emosi sebagai kemampuan seseorang mengenal, memahami, dan mengelola emosi agar tetap terkendali serta diekspresikan secara sehat dan tepat.
“Meregulasi emosi bukan berarti menahan atau menekan perasaan. Tetapi menyadari apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, mengontrol respons agar tidak berlebih dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat,” ujarnya.
Baca juga: Dokter ingatkan makan dan minum manis tak berlebihan saat puasa
Baca juga: MUI nilai potensi perbedaan awal Ramadhan cerminkan kematangan umat
Ia mengatakan tips meregulasi emosi, pertama mengenali dan menerima emosi dengan cara memperhatikan dan menerima emosi yang dirasakan, lalu menarik napas dalam, mengambil perlahan lalu menembuskan, atau bisa menggunakan metode 4x4x4 (empat detik tarik nafas, empat detik tahan, dan embuskan dalam 4 detik).
“Sadari bahwa lelah itu bukan dosa. Atur energi bukan hanya waktu, tidur yang cukup, dan sahur yang berprotein,” katanya.
Selain itu, katanya, meregulasi emosi bisa juga melalui berbicara dengan teman. Untuk tips ini, diperlukan teman yang bisa dipercaya dan tidak menceritakan ke sembarang orang.
Selain itu, olahraga dan relaksasi juga penting dengan melakukan kegiatan yang menenangkan, mengekspresikan diri dengan cara tidur cukup, makan teratur, dan relaksasi.
“Dan berpikir realistis, ganti pikiran negatif menjadi realistis. Misalnya, selama puasa mau istirahat saja tidak kerja, lalu terima gaji THR. Apa bisa begitu? ini kan enggak realistis namanya,” kata Revit.
Baca juga: Tips orang tua kenalkan puasa Ramadan ke anak
Baca juga: Dokter: Vitamin C dan zinc jaga daya tahan tubuh saat berpuasa
Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
