Jakarta (ANTARA) - Memasuki bulan Ramadan, orang tua kerap menantikan momen ketika anak mulai belajar berpuasa, namun pengenalan puasa pada anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan, agar pengalaman ini menjadi positif dan membentuk, dan tanpa menimbulkan tekanan.
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran Mariska Johana H, M.Psi., menekankan pentingnya melihat puasa sebagai proses perkembangan, bukan sekadar pengajaran aturan.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska kepada ANTARA, Sabtu (24/1).
Pemahaman puasa sesuai tahap usia
Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Puasa dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh.
Anak diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi, serta belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Nilai spiritual diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa usaha belajar berpuasa adalah perbuatan baik yang disukai Allah. Fokus utamanya adalah membangun pengalaman puasa yang aman, hangat, dan positif.
Memasuki usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat. Puasa dapat dipahami sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.
Baca juga: Orang tua diminta waspada tanda anak belum siap berpuasa
“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.
Pada tahap ini, nilai spiritual dikaitkan dengan perilaku konkret, seperti bersabar, membantu orang lain, dan berbagi. Anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh karena membantu mengatur pola makan dan kebiasaan.
Usia sekolah akhir hingga remaja awal, sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, memungkinkan anak berpikir lebih reflektif. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.
Anak bisa diajak melihat puasa sebagai latihan lengkap, seperti belajar menahan lapar, mengatur perasaan, menjaga pikiran, dan dekat dengan Tuhan. Puasa juga membantu tubuh tetap sehat dan membiasakan kebiasaan baik, sehingga anak belajar merawat dirinya dengan cara menyenangkan.
