BI sebut harga pangan menjadi pemicu utama inflasi di DIY

id komoditas pangan,inflasi,DIY,Yogyakarta

BI sebut harga pangan menjadi pemicu utama inflasi di DIY

Ilustrasi - Pembeli memilih bawang merah yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (6/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wpa.

Yogyakarta (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di provinsi ini pada Februari 2026 yang tercatat sebesar 0,68 persen secara bulanan (mtm).

"Secara bulanan, inflasi yang terjadi di DIY disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil inflasi 0,37 persen (mtm)," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Darmadi, kenaikan pada kelompok tersebut dipicu oleh melonjaknya harga cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah dan telur ayam ras.

Komoditas tersebut masing-masing memberikan andil sebesar 0,12 persen (mtm), 0,07 persen (mtm), 0,03 persen (mtm) dan 0,05 persen (mtm).

Menurut Sri Darmadi, kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah dipengaruhi oleh penurunan produksi di tingkat petani akibat tingginya curah hujan di DIY selama Februari 2026.

Kondisi tersebut menurunkan pasokan cabai di tengah tingginya permintaan masyarakat saat bulan Ramadhan dan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 H.

"Selanjutnya, kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat yang tinggi selama bulan Ramadhan di tengah pasokan yang terbatas," ujar dia.

Selain kelompok pangan, inflasi juga dipicu oleh meningkatnya harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 0,31 persen (mtm).

Kenaikan pada kelompok itu terutama berasal dari emas perhiasan yang menyumbang andil inflasi sebesar 0,30 persen (mtm), sejalan dengan meningkatnya harga emas global akibat eskalasi geopolitik.

Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi dengan andil sebesar 0,03 persen (mtm).

Deflasi tersebut dipengaruhi oleh turunnya harga bensin dengan andil 0,06 persen, seiring kebijakan penurunan harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 1 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia, termasuk DIY.

Sementara itu, secara tahunan, DIY mengalami inflasi sebesar 4,91 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,30 persen (yoy).

Pada Januari 2026, DIY tercatat mengalami deflasi sebesar 0,16 persen (mtm).

"Mengacu pada risiko ke depan, KPw BI DIY memprakirakan inflasi DIY tahun 2026 dapat terjaga pada kisaran target nasional sebesar 2,5±1 persen," ujar Sri Darmadi.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.