Logo Header Antaranews Jogja

Nestle Indonesia: Program Pendampingan Gizi dukung cegah stunting

Jumat, 6 Maret 2026 15:39 WIB
Image Print
Nestle Indonesia menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama seluruh mitra lintas sektor yakni Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer. ANTARA/HO-Nestle Indonesia

Yogyakarta (ANTARA) - Nestle Indonesia menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama seluruh mitra lintas sektor yakni Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer.

Langkah itu menegaskan pentingnya intervensi gizi anak usia dini yang konsisten, terpantau, dan berbasis kolaborasi dalam mendukung pencegahan stunting di Indonesia.

Dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program itu menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.

Hasil pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.

Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Dr Yuni Hastutiningsih menyampaikan kolaborasi lintas sektor merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting.

“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia," katanya.

Selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.

Marketing Manager PT Nestlé Indonesia Ankur Mittal menegaskan keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan.

“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor. Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas," katanya.

Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, katanya, menunjukkan perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga.

Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak.

Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Dari perspektif akademis, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University Prof. Ali Khomsan menjelaskan pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan.

“Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5 persen. Ini menegaskan intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting," katanya.

Di lapangan, peningkatan pemahaman keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal.

“Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah," katanya.

Gambaran pelaksanaan program pendampingan gizi juga turut dipaparkan langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Batang Faelasufa. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan pendekatan pendampingan dan edukasi dalam intervensi di tingkat desa merupakan kunci penting dalam keberhasilan program.

“Pada program GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) TP PKK tahun kemarin, kami menjadi orang tua asuh bagi 272 anak (di Kabupaten Batang). Kami ukur berat badan mereka sebelum program mulai, kemudian setiap bulan kita juga kerjasama dengan posyandu untuk menarik data berat badan mereka," katanya.

Alhamdulillah, lanjutnya, 98 persen dari anak-anak tersebut berat badannya naik selama kita memberikan intervensi GENTING dan dari program pendampingan gizinya itu, Nestlé memberi tahu caranya ke ibu-ibu di desa-desa di Batang.

"Jadi knowledge gap di desa itu nyata dan yang saya suka adalah Nestlé itu ngajarin, gak cuma ngasih makan, tapi juga ada program pendampingannya untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu di desa bahwa makanan yang bergizi itu gak perlu mahal," katanya.

Dampak program juga dirasakan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Perwakilan orang tua penerima manfaat intervensi gizi dari Nestle di Pasuruan Himmatul Ulya yang menyampaikan pendampingan dan edukasi kepada kader dan keluarga membantu pemahaman akan pentingnya gizi seimbang serta pemantauan rutin tumbuh kembang anak setiap harinya.

“Setelah mengikuti Program Pendampingan Gizi, kami lebih memahami kebutuhan gizi anak dan cara memantau pertumbuhannya. Anak kami yang sebelumnya berat badannya sulit naik mulai menunjukkan perbaikan, lebih aktif, dan nafsu makannya meningkat secara bertahap setelah mengikuti program dan pemantauan rutin bersama kader. Kami juga mulai menerapkan pola makan yang lebih sehat untuk seluruh keluarga," katanya.

Program ini dirancang bukan sekadar sebagai intervensi jangka pendek, melainkan sebagai model pendekatan berkelanjutan yang memperkuat kapasitas keluarga, kader, dan komunitas dalam menjaga praktik gizi yang baik di tingkat rumah tangga, sejalan dengan komitmen global Nestlé untuk mendukung 50 juta anak hidup lebih sehat pada 2030.

“Kami percaya keberlanjutan program terletak pada perubahan perilaku yang bertahan setelah intervensi selesai. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas komunitas akan terus menjadi fokus kami dalam mendukung upaya pencegahan stunting di Indonesia,” tutup Ankur.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026