Jakarta (ANTARA) - Rasa emosi dari ketidakadilan serta luka kehilangan, menjelma menjadi dendam menuntut balas, sehingga praktik ilmu hitam seperti santet dianggap jalan pilihan. Semua itu tergambar dalam film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa”.
Digarap oleh sutradara Azhar Kinoi Lubis dan produser Sunil Soraya bersama rumah produksi Soraya Intercine Films, film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” hadir sebagai horor kolosal yang mengangkat teror balas dendam dengan konflik emosional. Film ini turut meramaikan layar lebar Indonesia mulai 18 Maret 2026.
Ceritanya mengikuti kehidupan Suzzanna (Luna Maya) yang dicintai secara obsesif oleh seorang penguasa desa yang kejam dan haus akan kekuasaan bernama Bisman (Clift Sangra).
Di awal, penonton akan disuguhi latar Desa Karang Setan yang akan mengadakan pemilihan lurah baru. Bisman yang dikenal sebagai juragan dengan sikap arogan ikut mencalonkan diri dalam pemilihan lurah tersebut.
Namun, warga tidak mau Bisman terpilih sebagai lurah. Untuk menggagalkannya sebagai calon tunggal, warga sepakat mengusung Satriyo (El Manik), ayah Suzzanna jadi calon lurah yang baru sebagai pesaing Bisman dalam pemilihan tersebut.
Namun, Bisman bergerak cepat untuk menyingkirkan pesaingnya itu dengan mendatangi dukun kepercayaannya meminta bantuan untuk mengirim santet ke rumah Suzzanna, yang akhirnya merenggut nyawa Satriyo.
Suzzanna mengetahui sebuah rahasia yang diceritakan oleh istri Bisman. Peristiwa tak terduga pun terjadi, hingga ia harus melarikan diri dari kejaran tiga anak buah Bisman, yakni Lawu (Iwa K), Banteng (Budi Bima), dan Kawi (Andy/Rif).
Dalam pelariannya, Suzzanna memilih nekat terjun ke sungai dan dikira telah meninggal. Tubuhnya yang terapung di sungai itu ditemukan oleh Pramuja (Reza Rahadian) dan dibawa untuk diobati oleh Nyi Gayatri (Nai Djenar Maisa Ayu).
Pertemuan Suzzanna dengan Nyi Gayatri justru membawanya mempelajari praktik ilmu hitam santet. Ketika melakukan balas dendam, Suzzanna menyadari kekuatan Bisman jauh lebih besar dari yang ia duga.
Di tengah perjalanan, ia jatuh cinta pada Pramuja, pria taat agama yang tak mengetahui rahasia Suzzana. Hingga akhirnya, Suzzanna dihadapkan pada pilihan: meneruskan dendam, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta.
Teror balas dendam yang emosional
Alih-alih menampilkan adegan horor dengan hantu yang muncul penuh jumpscare (mengejutkan), film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” justru menghadirkan ketegangan lewat teror balas dendam yang emosional dari sisi manusiawi yang mengalami ketidakadilan dan kehilangan.
“Saya cuma pingin mengembalikan lagi bahwa Suzzanna itu kan bukan hanya film horor yang menakut-nakutkan. Film Suzzanna itu punya pesan-pesan yang terselubung. Jadi saya coba balikin lagi bahwa Suzzanna itu manusia,” kata Azhar Kinoi Lubis, dalam konferensi pers seusai pratayang film tersebut di Jakarta, Sabtu (14/3) malam.
Sisi ceritanya bukan sekadar balas dendam dari sosok hantu (sundel bolong) seperti yang dihadirkan di dua proyek film dari Soraya Intercine Films yakni "Suzzanna: Bernapas dalam Kubur" (2018) dan "Suzzanna: Malam Jumat Kliwon" (2023). Dalam “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa”, penonton akan disuguhkan sisi drama melalui gambaran tentang karma dan kesenjangan sosial.
Suzzanna hadir sebagai manusia yang awalnya penuh perasaan, rapuh, tapi perlahan berubah menjadi sosok yang mengerikan karena dibentuk keadaan. Kesedihan dan kemarahannya berkembang menjadi teror, karena ambisi kesombongan seorang pria berkuasa.
Dalam film ini, Luna Maya yang memainkan karakter Suzzanna berhasil menghidupkan pendalaman emosionalnya. Perubahan Suzzanna dari perempuan polos menjadi sosok yang terjebak antara dendam, begitu tergambar, bahkan dalam adegan hanya menatap tanpa bergerak pun, penonton bisa turut merasakan beban emosional yang ia pendam.
Tak hanya itu, dalam upaya menghadirkan kembali aura legenda ratu horor Suzzanna Martha Frederika van Osch, Luna Maya juga mendalami pembawaan karakter seperti gaya berbicara yang halus hingga menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk dibentuk menyerupai sosok legendaris tersebut.
Sementara itu, karakter Pramuja yang diperankan oleh aktor Reza Rahadian, digambarkan sebagai sosok yang tenang dan religius, yang menjadi penyeimbang di tengah dendam Suzzanna menempuh jalan santet. Pramuja terus mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Dinamika hubungan Suzzanna dan Pramuja menambahkan lapisan humanis, mengingatkan penonton bahwa secercah harapan dan iman bisa muncul bahkan di tengah kegelapan.
Di sisi lain, Clift Sangra memerankan Bisman dengan cukup baik. Ia menghadirkan karakter antagonis yang manipulatif, kejam, penuh ambisi, dan haus kekuasaan.
Film ini juga memberikan porsi cukup dominan untuk adegan kekerasan penuh darah serta praktik santet. Efek mengerikan yang ditimbulkan dari adegan-adegan horor tersebut cukup menghadirkan ketegangan.
Sang produser, Sunil Soraya, mengatakan film “Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” dihadirkan sebagai tontonan horor yang belum pernah ada dalam Intellectual Property (IP) Suzzanna sebelumnya.
Menurut dia, pendekatan cerita dan visual harus menyesuaikan agar terasa unik bagi penonton masa kini. Storytelling yang tak terduga dinilainya penting agar penonton tidak langsung bisa menebak alur cerita.
“Intinya kan film Suzzanna sudah pernah dibuat dulu sama Bunda Suzzanna. Kalau kita mau buat sesuatu yang baru, yang bukan remake tapi reimagine mungkin namanya ya. Itu harus beda total. Zaman juga sudah beda, jadi gimana caranya kita bikin itu film unik pada zaman sekarang,” tutur Sunil.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: "Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa", balas dendam yang emosional
