Strategi pariwisata Bali bertahan di kala krisis geopolitik

id konflik Timur Tengah, Perang AS Iran , Pariwisata Bali, Kedatangan wisman, Bandara Ngurah Rai Oleh Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Strategi pariwisata Bali bertahan di kala krisis geopolitik

Sejumlah wisatawan mengunjungi objek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (24/3/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Denpasar (ANTARA) - Situasi dunia, saat ini sedang tidak baik-baik saja, setelah konflik meletus pada 28 Februari 2026 yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel kontra Iran.

Bahkan, mendekati pekan terakhir Maret, belum ada tanda-tanda memanasnya hubungan dua kubu itu mereda.

Gencatan senjata dan negosiasi masih belum menemukan titik terang.

Secara jarak, peristiwanya memang jauh dari Indonesia, namun dampaknya terasa, hingga di tanah air, khususnya Bali yang mayoritas ekonominya dijalankan dari geliat pariwisata.

Sejumlah penumpang tiba melewati pemeriksaan keimigrasian di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (24/3/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Mitigasi Bali

Pemikiran pakar pemasaran modern, sekaligus profesor dari Northwestern University AS Philip Kotler dan profesor dari North Carolina University AS Gary Amstrong, setidaknya dapat menjadi petunjuk bagaimana pemasaran mendorong geliat ekonomi, saat situasi sulit itu.

Dalam buku bertajuk Principles of Marketing edisi ke-17 cetakan tahun 2018, para pakar itu menyebutkan secara sederhana, yakni menarik pasar baru dan mengelola pasar yang selama ini telah memberikan nilai tambah.

Dari gagasan itu, diversifikasi pasar menjadi salah satu kunci yang bisa dilakukan agar geliat ekonomi di Bali yang sebagian besar didorong pariwisata bisa terus berkelanjutan.

Pasar-pasar pariwisata yang kini mencuat, misalnya India, China, Korea Selatan atau Jepang dan negara Asia Tenggara lainnya menjadi harapan untuk terus digenjot.

Indikatornya adalah tersedia banyak penerbangan langsung menuju dan dari Bali melalui negara-negara itu, tanpa melalui transit di kawasan Timur Tengah, yaitu Doha, Dubai, dan Abu Dhabi yang kondisinya rentan karena berada di wilayah konflik.

Indikator lain adalah mulai banyak berdatangan turis dari negara tersebut mengunjungi Bali.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 2025, kedatangan turis asal India menduduki posisi kedua mencapai 569 ribu lebih dan ketiga diduduki China sebanyak 537 ribu lebih.

Kemudian gagasan kedua adalah menjaga pasar tradisional yang konsisten sudah memberikan dampak positif kunjungan wisatawan mancanegara kepada Bali, yaitu pasar Australia.

Negara tetangga selatan Indonesia itu, kini berturut-turut menduduki posisi puncak kedatangan turis asing di Bali, sejak pandemi COVID-19 berakhir.

Sementara pada 2025, wisatawan asal Negeri Kanguru itu berkontribusi sebesar 1,6 juta lebih.

Apabila mencermati peningkatan secara persentase, kedatangan turis dari China, Korea Selatan, dan Jepang terbilang tinggi, masing-masing 19,83 persen, 17,91 persen dan 17,96 persen pada 2025 dibandingkan 2024.

Selama 2025, total ada 6,94 juta wisatawan asing mengunjungi Bali atau naik 9,72 persen dibandingkan 2024.

Hal yang menjadi pekerjaan rumah, saat ini, salah satunya adalah membuka lebih luas akses penerbangan langsung Bali-Jepang.

Sebelumnya, maskapai dari Negeri Matahari Terbit itu membuka penerbangan langsung di Bali, namun, kini, sudah terhenti dan yang ada hanya dilayani Garuda Indonesia.

Konsul Jenderal Jepang di Denpasar Miyakawa Katsutoshi mengungkapkan Bali menjadi salah satu tujuan tur para pelajar dari negaranya untuk mengenal budaya, tradisi, dan alam, sehingga berpeluang besar dapat digarap optimal pelaku pariwisata di Pulau Dewata.

Di sisi lain, pasar Amerika Serikat dan Eropa yang juga memiliki kontribusi besar, bukan berarti ditinggalkan. Kawasan itu tetap menjadi target pasar pariwisata Bali, sembari mencermati situasi terkini konflik di kawasan Timur Tengah.

Setidaknya, masih ada jalur transit lain yang memiliki peluang, yakni melalui Singapura, Thailand, Taiwan, atau Turki, yang ada penerbangan langsung menuju Bali.

Karakter wisatawan

Selain melakukan diversifikasi pasar baru dan merawat pasat pariwisata tradisional, upaya lain yang dapat dilakukan adalah peningkatan produk yang memberikan pengalaman kepada wisatawan.

Paket wisata berbasis budaya dan desa wisata, hingga wisata minat khusus, seperti pariwisata olahraga dapat menjadi beberapa produk yang perlu diperkaya guna ditawarkan kepada wisatawan.

Promosi yang bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan teknologi dan media sosial juga perlu terus dilakukan untuk menyasar segmentasi wisatawan tertentu, misalnya kapal pesiar.

Kini, infrastruktur dermaga kapal pesiar di Pelabuhan Benoa (Denpasar) dan Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng diharapkan mendongkrak kedatangan wisatawan yang dikenal berkantong tebal tersebut.

Pelindo Benoa mencatat selama 2025 sebanyak 65 kapal pesiar yang dioperasikan operator global singgah di Pelabuhan Benoa, dengan membawa total sekitar 140 ribu wisatawan mancanegara.

Jumlah kunjungan itu melonjak dibandingkan periode 2024 yang saat itu terdapat 56 kunjungan kapal pesiar, dengan arus penumpang atau penumpang yang berangkat dan tiba sebanyak 107.717 wisatawan asing.

Sementara pada 2026, total ada 73 kapal pesiar jumbo sudah terdaftar untuk singgah di Benoa, Bali.

Tidak hanya itu, wisatawan generasi milenial dan Gen Z juga tidak bisa dikesampingkan. Mereka terbiasa dekat dengan teknologi, sehingga pemanfaatan layanan digitalisasi perlu dikedepankan, misalnya dengan memanfaatkan sistem pembayaran digital berbasis kode batang atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).


Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.