
Jalur pansela, antara lanskap pesisir dan denyut Ramadhan di Yogya

Yogyakarta (ANTARA) - Di saat sebagian besar pemudik beralih ke jalan tol, jalur selatan Jawa terus menjanjikan pengalaman perjalanan darat yang berbeda. Rute ini menghadirkan suasana yang lebih tenang, dengan lanskap pesisir dan interaksi warga yang masih terasa dekat.
Perjalanan dari Cilacap menuju Yogyakarta dimulai pada Selasa (17/3) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Rute yang ditempuh membawa kembali pada jalur selatan Jawa, yang sebelumnya menjadi andalan perjalanan darat sebelum era jalan tol.
Alih-alih langsung menuju tujuan, perjalanan diisi dengan sejumlah persinggahan yang memberi gambaran kondisi arus mudik sekaligus potensi wisata di sepanjang rute.
Salah satu titik yang disambangi adalah Pantai Menganti di Kabupaten Kebumen. Pantai ini dikenal dengan lanskap perbukitan hijau yang berpadu dengan garis pantai berpasir putih serta hamparan Samudra Hindia. Akses menuju lokasi melalui Jalan Karangpakis yang berkelok dan menantang.
Pantai Menganti merupakan bagian dari kawasan Geopark Kebumen yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark pada periode 2024–2025. Status ini mempertegas daya tarik jalur selatan yang tidak hanya berfungsi sebagai lintasan perjalanan, tetapi juga menyimpan potensi wisata berbasis alam dan geologi.

Di tengah perjalanan menuju lokasi, tim ANTARA sempat menjumpai warga yang membagikan takjil kepada pengguna jalan. Momen ini menjadi pengingat suasana khas perjalanan darat di bulan Ramadhan, di mana interaksi sederhana di pinggir jalan menjadi bagian dari pengalaman mudik.
Di sepanjang perjalanan menuju Pantai Menganti melalui Jalan Karangpakis, tim juga melintasi Jembatan Ayah yang menjadi salah satu titik penanda di jalur tersebut. Jembatan ini menghubungkan wilayah Kabupaten Kebumen dengan Cilacap, sekaligus menjadi akses penting menuju kawasan pesisir selatan.
Dari jembatan terlihat bentang alam sungai yang mengalir menuju laut tampak terbuka, menghadirkan pemandangan yang kontras dengan jalur perbukitan sebelumnya. Keberadaan jembatan ini berfungsi sebagai penghubung wilayah dan juga menjadi bagian dari perjalanan yang memperlihatkan karakter khas jalur selatan yang masih didominasi lanskap alam.
Saat tiba di Pantai Menganti, kondisi kawasan wisata terlihat sepi. Arus kendaraan di sepanjang akses menuju pantai relatif lancar, bahkan tim dapat berhenti di pinggir jalan tanpa mengganggu pengguna jalan lain. Area parkir juga terlihat kosong tanpa kendaraan roda empat, menunjukkan di jalur ini belum ada lonjakan seperti di jalur utama lain.
Jalur Daendels hingga Ramadhan di Yogyakarta
Setelah menikmati suasana senja, perjalanan dilanjutkan menuju Yogyakarta melalui Jalan Daendels, salah satu ruas yang sejak lama menjadi bagian dari jalur selatan Jawa.
Di sepanjang jalur ini, tim mendapati banyak pedagang jambu kristal yang dijajakan di pinggir jalan. Tim sempat singgah untuk membeli dengan harga sekitar Rp15 ribu per kilogram. Aktivitas jual beli di tepi jalan ini menjadi gambaran denyut ekonomi lokal yang masih bertahan di tengah perubahan pola perjalanan masyarakat.
Kondisi jalan di beberapa titik terasa sedikit kasar, namun masih dapat dilalui dengan lancar. Volume kendaraan juga relatif sepi, menghadirkan suasana perjalanan yang lebih lengang dibanding jalur utara atau jalan tol. Situasi ini memberi kesan berbeda, seolah mengembalikan pengalaman perjalanan darat yang lebih santai dan tidak terburu-buru.
Keesokan harinya, perjalanan berlanjut dengan mengunjungi Jembatan Pandansimo di Kabupaten Bantul. Jembatan sepanjang sekitar 2,3 kilometer ini merupakan bagian dari Jalur Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Bantul dengan Kulon Progo dan telah dibuka untuk umum pada Oktober 2025.
Keberadaan infrastruktur ini menunjukkan perkembangan jalur selatan yang kini tidak lagi sekadar alternatif, tetapi mulai diperkuat sebagai jalur utama yang mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah pesisir.
Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan kuliner dengan mencicipi gudeg, salah satu makanan khas Yogyakarta. Tim mengunjungi Gudeg Sagan yang dikenal ramai pengunjung, dengan harga mulai dari Rp12 ribu.
Selanjutnya, tim mendatangi Masjid Jogokariyan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat selama Ramadhan. Masjid ini dikenal dengan program berbuka puasa gratis menggunakan piring yang menarik minat warga hingga pemudik.
Di kawasan sekitar masjid, suasana semakin hidup melalui Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Ratusan lapak takjil, pembagian makanan gratis, hingga aktivitas sosial warga berlangsung sejak sore hingga malam hari, memperlihatkan bagaimana ruang publik di jalur ini tetap aktif dan terhubung dengan kehidupan masyarakat.
Selain mengunjungi sejumlah titik wisata dan kuliner, tim juga memantau kondisi lalu lintas di kawasan Tugu Yogyakarta melalui Pos Pengamanan setempat.
Kepala Pos Pengamanan Tugu Yogyakarta, Iptu Noer Alim, mengatakan, volume kendaraan mulai meningkat menjelang Lebaran.
“Peningkatan sudah mendekati 40 persen dibanding hari biasa, tapi arus lalu lintas masih lancar dan terkendali,” kata dia.
Pada malam hari, perjalanan dilanjutkan menuju Semarang melalui jalur arteri Magelang–Ambarawa–Bawen setelah rencana melintasi tol urung dilakukan karena rekayasa lalu lintas satu arah.
Tim tiba di Semarang sekitar pukul 01.00 WIB dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya. Sepanjang perjalanan dari Cilacap hingga Yogyakarta, jalur selatan masih relatif lengang.
Meski tidak lagi menjadi pilihan utama sejak kehadiran jalan tol, jalur ini tetap menghadirkan pengalaman perjalanan yang berbeda, mulai dari lanskap pesisir, interaksi warga di pinggir jalan, hingga aktivitas ekonomi lokal yang masih bertahan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Jalur pansela, antara lanskap pesisir dan denyut Ramadhan di Yogya
Pewarta : Farika Nur Khotimah
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
