Pelaku UMKM lakukan penyesuaian untuk keberlangsungan produksi

id Umkm, pelaku, harga, kuliner

Pelaku UMKM lakukan penyesuaian untuk keberlangsungan produksi

Diki (51), pengusaha kue lapis dan talam di Cirebon. Ia mengakui penyesuaian ukuran produk merupakan solusi realistis dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar, terutama dalam menghadapi tantangan fluktuasi harga di tingkat produsen. ANTARA/HO-Ist

Yogyakarta (ANTARA) - Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan terus melakukan sejumlah penyesuaian di antaranya terkait ukuran produk juga harga guna menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika harga bahan baku tepung beras di pasaran.

Langkah adaptif ini diambil seiring dengan terjadinya kenaikan harga beras pecah (broken rice) lokal yang kini menjadi tumpuan utama bahan baku industri tepung beras nasional. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga beras pecah lokal saat ini berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram.

Riyanto Jokonur, pemilik penggilingan UD Sekar Putri di Klaten, Jawa Tengah, menjelaskan pihaknya tetap berkomitmen menyuplai kebutuhan pabrik tepung dengan mengandalkan beras pecah kualitas satu yang berasal dari proses penggilingan beras premium.

"Beras patahan kualitas terbaik ini kami stok khusus untuk memenuhi permintaan industri manufaktur tepung," ujar Riyanto.

Menyikapi kenaikan harga bahan baku, para pelaku UMKM menunjukkan resiliensi dengan menerapkan berbagai strategi seperti yang dilakukan Jumiati, pemilik usaha Berkah Snack di Kabupaten Semarang yang memilih melakukan penyesuaian harga jual yang terukur guna menjaga margin usaha dan kesejahteraan 12 karyawannya.

"Kami melakukan penyesuaian harga sekitar Rp2.000 per bal agar operasional tetap stabil. Dengan kebutuhan bahan baku mencapai dua kuintal per hari, langkah ini penting agar produksi tetap berjalan dan distribusi ke berbagai daerah di Jawa Tengah tidak terganggu," ungkap Jumiati.

Di sisi lain, kreativitas produksi juga ditunjukkan oleh pelaku UMKM di Kampung Kue Pekantingan, Cirebon, Jawa Barat. Wenny (39), produsen kue tradisional, memilih untuk melakukan penyesuaian ukuran produk tanpa mengurangi kualitas rasa.

"Langkah ini kami ambil untuk menjaga daya beli konsumen. Selain itu, kami juga mulai melakukan diversifikasi dengan memproduksi varian kue lain yang tidak menggunakan tepung beras sebagai bahan utama," jelasnya.

Senada dengan pelaku usaha lainnya, Diki (51), pengusaha kue lapis dan talam di Cirebon, mengakui penyesuaian ukuran produk merupakan solusi realistis dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar, terutama dalam menghadapi tantangan fluktuasi harga di tingkat produsen.

Para pelaku usaha skala rumahan ini menyatakan optimismenya bahwa kondisi pasar akan tetap kondusif. Mereka berharap adanya sinergi yang berkelanjutan antara kebijakan tata kelola pangan nasional dengan kebutuhan industri kecil, sehingga stabilitas harga bahan baku lokal dapat terus terjaga.

Melalui langkah-langkah penyesuaian yang terukur, sektor UMKM kuliner diharapkan tetap mampu menjadi pilar ekonomi rakyat yang tangguh, mandiri, serta terus berkontribusi dalam menjaga ketersediaan pangan olahan bagi masyarakat luas.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.