
Thailand dukung kembalinya Myanmar ke dalam ASEAN

Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, Rabu (22/4) mengatakan telah bertemu Presiden Myanmar Min Aung Hlaing dan membahas kemungkinan kembalinya Naypyidaw ke dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Sihasak, yang sedang mengunjungi Myanmar, menguraikan tiga tujuan utama kunjungan tersebut yaitu mempromosikan upaya perdamaian, memperkuat kerja sama perbatasan, dan mendorong keterlibatan regional yang diperbarui.
Sihasak mendesak Myanmar untuk mengatasi kekhawatirannya soal ASEAN dan mengatakan Thailand mendukung kembalinya Myanmar untuk berpartisipasi penuh dalam perhimpunan tersebut melalui keterlibatan bertahap.
Baca juga: Praktisi: AI perlu lebih ditekankan dalam pelatihan penjurubahasaan
Baca juga: Dino Patti Djalal sarankan Prabowo fokus perkuat ASEAN
Ia juga menyambut baik pemberian grasi bagi tokoh-tokoh politik yang ditahan dan menyatakan harapan agar langkah berlanjut guna mendukung rekonsiliasi nasional.
Pekan lalu, Myanmar mengumumkan hukuman semua terpidana mati menjadi hukuman penjara seumur hidup.
Hal tersebut merupakan langkah grasi pertama yang ditetapkan pemimpin junta Min Aung Hlaing, sejak menjabat sebagai presiden awal bulan ini.
Di antara mereka yang hukumannya dikurangi termasuk mantan Presiden Aung San Suu Kyi, pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang kini telah dibubarkan. Suu Kyi menjalani hukuman 27 tahun setelah beberapa kali divonis bersalah dengan total hukuman 33 tahun.
Sihasak mengatakan Bangkok sedang menjajaki upaya agar ASEAN dan organisasi internasional dapat memperluas bantuan kemanusiaan kepada penduduk yang terdampak di Myanmar.
Ia menyerukan deeskalasi, mendesak pengurangan penggunaan kekuatan di sepanjang perbatasan dan gencatan senjata penuh, setelah pesawat tempur Myanmar "secara keliru menjatuhkan bom di wilayah Thailand."
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Thailand dukung kembalinya Myanmar ke dalam ASEAN
Pewarta : Yashinta Difa
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
