Logo Header Antaranews Jogja

Sultan tegaskan investor DIY harus utamakan kelestarian lingkungan

Kamis, 30 April 2026 20:31 WIB
Image Print
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X usai Rakordal 2026 di Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Kamis (30/4/2026) (ANTARA/HO-Humas Pemda DIY)

Yogyakarta (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan setiap investor yang berminat masuk ke DIY, wajib mengutamakan kelestarian lingkungan agar sejalan dengan konteks Hamemayu Hayuning Bawana, di mana alam Jogja tidak boleh dirusak.

"Keselamatan alam hanya dimungkinkan karena kebijakan manusia, jadi jangan merusak alam. Kami fokus tidak merusak alam, sehingga kami untuk investasi pun lihat-lihat, kalau hanya merusak alam atau pencemaran lingkungan, lebih baik tidak usah masuk (berinvestasi) di Jogja," kata Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis.

Menurut Sultan, DIY harus tetap menjaga alamnya agar tidak rusak oleh perilaku manusianya. Kerusakan lingkungan terjadi mayoritas karena ulah manusia. Dan jika sudah rusak, alam dapat 'membalas' dengan mendatangkan bencana.

"Jadi bagaimana kita menjaga alam ciptaan-Nya, bagaimana kita bisa bijak mengelolanya, itu saja," katanya.

Sultan mengatakan investasi di kawasan selatan memiliki keterbatasan. Misalnya, untuk memasarkan produk laut, tentu butuh infrastruktur, termasuk jalan. Sementara, akses jalur jalan lintas selatan (JJLS) dan jalan tol nantinya hanya menghubungkan dari barat ke timur, atau sebaliknya.

"Makanya butuh jalan dari selatan ke utara atau sebaliknya. Karena kalau tidak ada, produk laut itu tidak bisa keluar. Dan kualifikasi jalannya juga harus setara untuk dilewati kendaraan besar. Kalau status jalannya hanya jalan desa atau jalan kabupaten, nanti papasan saja tidak bisa," katanya.

Lebih lanjut, Gubernur DIY mengatakan kawasan selatan provinsi ini menyimpan banyak potensi besar, mulai dari kelautan, pariwisata, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Namun, lanjut Sultan, kawasan tersebut masih menghadapi tantangan struktural berupa ketimpangan ekonomi dan kemiskinan, belum optimalnya pemanfaatan potensi pesisir keterbatasan mobilitas, hingga rendahnya minat penanaman modal dan kerentanan terhadap bencana.

"Karena itu, kawasan selatan sebagai motor pertumbuhan baru, perlu dilakukan melalui optimalisasi potensi dan penanaman modal yang selaras dengan pendekatan ekonomi biru dan ekonomi hijau," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan ketimpangan investasi utara-selatan di DIY bukanlah sebuah kebetulan geografis, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor historis, keterbatasan bio-geofisik, dan keunikan sistem agraria.

Menurut dia, wilayah utara yaitu Sleman dan Kota Yogyakarta telah mengunci keuntungan aglomerasi melalui keunggulan modal manusia dan infrastruktur pendidikan yang mapan.

"Sementara wilayah selatan (Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul) harus berhadapan dengan biaya operasional tinggi akibat pemenuhan izin dasar di sisi lingkungan dan keruangan, masalah air bersih di kawasan karst dan risiko bencana pesisir," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, investasi di masa depan harus diarahkan pada sektor-sektor yang selaras dengan karakteristik lokal wilayah selatan, seperti pariwisata berkelanjutan di kawasan Geopark, industri pengolahan hasil laut atau pertanian modern di selatan.

"Perluasan mindset (pola pikir) investasi kepada semua organisasi perangkat daerah (OPD) pun perlu dilakukan, karena investasi merupakan tanggungjawab bersama semua pihak," katanya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sultan HB tegaskan investor DIY harus utamakan kelestarian lingkungan



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026