Logo Header Antaranews Jogja

Berikut langkah saat EV mati mendadak

Jumat, 1 Mei 2026 07:10 WIB
Image Print
Aktivis meletakkan bunga dalam aksi doa bersama atas tabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/sgd/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pakar otomotif Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB), Agus Purwadi menegaskan pentingnya pemahaman prosedur keselamatan yang tepat, terutama saat kendaraan listrik (EV) mati mendadak di perlintasan kereta api maupun jalan raya.

Hal ini ia ungkapkan terkait kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam yang melibatkan satu unit taksi listrik.

“Peristiwa ini memang perlu menjadi pelajaran penting bagi kita semua mengenai prosedur keselamatan khususnya terkait kendaraan listrik. Sebagai teknologi yang mengandalkan sistem kontrol elektronik terpusat, penanganan EV saat keadaan darurat memiliki protokol yang sedikit berbeda dibanding mobil konvensional,” kata Agus dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, ketika EV mati mendadak, sistem komputer biasanya otomatis mengaktifkan parking pawl (pengunci transmisi) atau rem parkir elektronik. Kondisi ini membuat kendaraan sulit digerakkan, sehingga respons cepat menjadi kunci keselamatan.

“Ketika EV mati mendadak, sistem komputer biasanya akan mengaktifkan parking pawl atau electronic parking brake karena hilangnya daya. Ini membuat mobil sangat sulit didorong,” ujarnya.

Baca juga: Bisakah mobil listrik mendadak mati jika lintasi rel KA?

Baca juga: Polisi: Sopir taksi terlibat kecelakaan KRL baru kerja hari ketiga


Dalam situasi paling kritis seperti di perlintasan kereta api, Agus menekankan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama.

“Hanya ada satu aturan prioritas, tinggalkan kendaraan segera,” imbuhnya.

Pakar teknik tenaga listrik dan konversi energi yang aktif meneliti pengembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia ini merinci, penumpang tidak disarankan mencoba menyalakan ulang kendaraan atau mencari mode netral.

“Prioritas nyawa, jangan membuang waktu mencoba men-starter ulang mobil atau mencari tombol neutral. Begitu mobil berhenti di tengah rel dan tidak bisa digerakkan, seluruh penumpang harus segera keluar,” ujar Agus.

Setelah keluar, penumpang diminta menjauh dengan arah yang tepat.

“Menjauh dari rel dan berlari lah ke arah datangnya kereta. Mengapa? Jika kereta menabrak mobil, puing-puingnya akan terlempar ke depan mengikuti arah laju kereta. Dengan berlari ke arah datangnya kereta, kita menghindari zona sebaran puing,” jelasnya.

Baca juga: Pakar beberkan kemungkinan penyebab taksi listrik mogok di rel KA

Sementara itu, pada kondisi di jalan raya, pengemudi masih memiliki peluang melakukan mitigasi.

Agus menyarankan agar momentum kendaraan dimanfaatkan untuk menepi ke bahu jalan sebelum sistem benar-benar terkunci.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami prosedur emergency neutral agar kendaraan bisa dipindahkan, serta penggunaan lampu hazard dan segitiga pengaman untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan lain.

“Banyak EV memiliki prosedur khusus untuk memindahkan transmisi ke neutral saat daya hilang, biasanya melalui kombinasi tombol atau tuas manual di bawah konsol. Ini penting agar mobil bisa didorong atau diderek.” Jelas Agus.

Ia mengungkap, dalam kondisi baterai 12V alias aki masih berfungsi, sistem elektronik dasar tetap bekerja.

“Selalu pastikan kondisi baterai 12V dalam keadaan prima, karena ia adalah jantung dari seluruh otak elektronik mobil listrik,” Agus menambahkan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Soroti prosedur keselamatan, pakar beri langkah saat EV mati mendadak



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026