Logo Header Antaranews Jogja

Tak semestinya nestapa kereta malam Jakarta-Bekasi itu terjadi

Jumat, 1 Mei 2026 08:25 WIB
Image Print
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Menurut data KAI hingga pukul 08.45 WIB sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 84 korban luka, akibat kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuterline. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr

Jakarta (ANTARA) - Muka-muka lelah itu tampak kian pucat dan pasrah. Mereka terpaksa bernapas dengan bantuan tabung oksigen, berjuang bertahan di tengah rasa sakit luar biasa setelah serpihan baja gerbong kereta menjepit hampir seluruh tubuh dan kaki mereka.

Mereka adalah tujuh orang penumpang, sekaligus korban terakhir yang terjebak dalam remukan gerbong khusus perempuan kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta–Cikarang, seusai tertabrak kereta api jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Senin, 27 April.

Malam itu situasinya kian mencekam. Hasil observasi Basarnas menyatakan bahwa satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah melalui ekstrikasi berat. Sebuah upaya yang nyaris tak memberi pilihan lain, selain mengangkat gerbong dengan crane. Teknik cutting dan lifting dilakukan dengan presisi tinggi menggunakan alat pemotong hidrolik, untuk membuka ruang dari himpitan material tanpa menggeser posisi gerbong yang berisiko memperparah cedera para penyintas.

Memotong serpihan baja gerbong kereta menjadi beberapa bagian jelas bukan perkara mudah, meski peralatan tersedia. Terlebih, potongan logam itu berhimpitan langsung dengan tubuh para korban yang semuanya perempuan. Bisa dibayangkan rasa ngilu saat tulang kering kaki berhadapan dengan besi yang bergetar, sesekali memercikkan api dari gesekan mesin pemotong.

Baca juga: Terbaru, KAI catat Korban meninggal insiden Bekasi Timur jadi 16 orang

Petugas berpengalaman dan bersertifikasi internasional seperti Basarnas Special Group (BSG) pun merasakan betapa pelik dan melelahkannya situasi malam itu. Bukan hanya fisik yang terkuras, tetapi juga mental mereka diuji, ketika harus berhadapan dengan isak tangis korban dan kondisi minim oksigen di dalam gerbong yang hancur.

Terbukti, ketika seorang personel Basarnas yang terlatih harus digotong keluar dari gerbong dengan napas memburu. Ia terduduk lesu, sesekali menghirup oksigen dari tabung bantuan untuk memulihkan tenaga yang habis setelah berjam-jam merayap di ruang sempit yang tidak stabil.




Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026