
Tak semestinya nestapa kereta malam Jakarta-Bekasi itu terjadi

Namun, diduga terjadi ketidaksinkronan dalam komunikasi dan sistem pengendalian perjalanan, mrmbuat Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Agro Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya tetap melaju dengan kecepatan tinggi menuju titik yang sama. Benturan hebat pun tak terelakkan.
Deddy Herlambang, pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menilai bahwa kecelakaan ini mencerminkan kerentanan jalur mixed traffic yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya.
Padahal, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2014 mewajibkan pemasangan Sistem Keselamatan Kereta Api Otomatis (SKKO/ATP) paling lambat lima tahun sejak aturan diterbitkan. Namun, menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan prasarana perkeretaapian nasional masih tertinggal.
Tanpa ATP., sistem yang mampu melakukan pengereman otomatis saat masinis gagal merespons sinyal merah, keselamatan ribuan penumpang setiap hari bertumpu pada penglihatan manusia, yang rentan terhadap kelelahan maupun gangguan cuaca.
Kondisi itu harus dibayar mahal. Polda Metro Jaya mencatat total 106 penumpang menjadi korban. Dari jumlah tersebut, 16 orang meninggal dunia, sementara 90 lainnya mengalami luka-luka, setidaknya hingga Rabu siang, 29 April. Sebanyak 46 korban masih dalam observasi dan menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi, sementara sebagian lainnya telah diperbolehkan pulang.
Baca juga: Kronologi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur
Salah satu korban meninggal dunia adalah Hj. Nuryati. Almarhumah merupakan seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga yang menghidupi delapan anaknya dari usaha warung sembako sederhana di Kemayoran, Jakarta Pusat.
Putrinya, Halimah, kini memikul beban berat untuk meneruskan usaha warung sembako, warisan usaha sang ibunda yang telah dirintis sejak 2010.
Duka serupa juga menyelimuti kediaman Nurlaela di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Cikarang Timur, Bekasi. Kepergian almarhumah meninggalkan kepiluan mendalam bagi keluarga. Ia adalah seorang guru PNS di SDN Pejagan 11 Pulogebang, Jakarta Timur, yang sehari-hari mengandalkan KRL untuk berangkat dan pulang kerja. Wafatnya Nurlaela sekaligus memutus pengabdiannya di dunia pendidikan, tak lama setelah ia meraih gelar magister dari Universitas Negeri Jakarta.
Tidak tinggal diam
Sudah tentu, pemerintah tidak tinggal diam atas kondisi ini. Lintas kementerian lembaga berbagi peran untuk meringankan beban keluarga dan memberikan tali asih atas korban dalam peristiwa ini.
Kementerian Sosial, misalnya, tidak hanya menyalurkan santunan, tetapi juga menyiapkan program pemberdayaan ekonomi bagi ahli waris agar kehidupan mereka dapat terus berjalan. Selain itu, diberikan pula asistensi rehabilitasi sosial bagi keluarga yang ditinggalkan. Langkah ini melengkapi respons cepat dari berbagai pihak, mulai dari PT KAI, Jasa Raharja, BP BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
