Logo Header Antaranews Jogja

Pengamat soroti pentingnya anggaran untuk tekan kecelakaan perlintasan

Jumat, 1 Mei 2026 13:58 WIB
Image Print
Arsip Foto - Sejumlah pengendara sepeda motor menunggu untuk menyeberangi jalur perlintasan kereta api tanpa palang pintu di kawasan Roxy, Gambir, Jakarta, Rabu (6/8/2025). ANTARA FOTO/Fauzan.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat Transportasi Djoko Setjowarno menyoroti pentingnya mencukupi anggaran untuk menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang serta mengatasi perlintasan liar di daerah.

Menurut dia, Provinsi Jawa Timur mampu menekan angka kecelakaan perlintasan sebidang pada 2025, namun capaian ini menyisakan beban biaya Sumber Daya Manusia (SDM) serta pendidikan dan pelatihan (diklat) yang berat bagi daerah.

“Berdasarkan data Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur (2026), angka kecelakaan di perlintasan sebidang menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Setelah sempat mencapai angka tertinggi, yakni 59 kejadian pada tahun 2022, angka tersebut berhasil ditekan secara drastis menjadi 30 kejadian di tahun 2024, dan mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir dengan 22 kejadian di tahun 2025,” ungkap Djoko saat dihubungi, Jumat.

Dia menilai keberhasilan itu membuktikan kehadiran petugas penjaga di lapangan merupakan kunci utama keselamatan transportasi kereta api.

Namun, kata dia, kecukupan anggaran tetap menjadi tantangan utama dalam pembangunan infrastruktur di daerah.

Meski demikian, Djoko memandang keberhasilan Jawa Timur itu perlu diikuti oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Ia menegaskan upaya-upaya peningkatan keselamatan transportasi kereta api tidak boleh terhenti akibat anggaran yang tidak mencukupi.

Di sisi lain, dia menuturkan pemangkasan dana transfer ke daerah secara langsung dapat berdampak pada pemangkasan Anggaran Dukungan Peningkatan Keselamatan Kereta Api.

“Padahal, risiko kecelakaan di perlintasan sebidang memerlukan penanganan yang mendesak dan berkelanjutan. Akibatnya, terjadi ketimpangan yang signifikan antara keterbatasan fiskal pemerintah Kabupaten/Kota dengan besarnya tanggung jawab pengelolaan perlintasan sebidang yang harus dipikul,” ujar Djoko.

Dia mengungkapkan di tengah lonjakan jumlah penduduk yang membutuhkan layanan mobilitas tinggi, pemangkasan itu dikhawatirkan menciptakan celah lebar antara target keselamatan yang ideal dan realitas anggaran yang minim.

“Niat mau berkeselamatan tanpa ada anggaran akan sia-sia,” pungkas Djoko.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat soroti pentingnya anggaran untuk tekan kecelakaan perlintasan



Pewarta :
Editor: Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026