
CORE: Substitusi bahan impor opsi industri hadapi pelemahan rupiah

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industri dapat mulai mencari dan bermitra dengan pemasok lokal sebagai alternatif pengganti (substitusi) bahan baku impor untuk menghadapi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Adapun nilai tukar rupiah pada Selasa (19/5) per 11.02 WIB bergerak melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.728 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
“Apa yang harus dilakukan pelaku industri untuk memitigasi dampak? Tentu saja biasanya jadi kalau nilai tukar terus berkurang, (industri) mencari alternatif pasokan dari dalam negeri yang tidak terlalu banyak terdampak karena pelemahan nilai tukar, dan juga melakukan diversifikasi dari rantai pasok,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Faisal menilai, pelemahan nilai rupiah akan berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada produk atau bahan baku impor seperti industri kimia hingga farmasi.
Selain karena terdapat disrupsi rantai pasok, terdapat juga peningkatan inflasi bahan baku dari negara asal atau pengimpor, serta peningkatan biaya distribusi atau logistik imbas harga minyak dunia yang juga fluktuatif.
“Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar. Walaupun tidak seragam antara semua pelaku usaha pelaku industri, tapi tentu saja (peningkatannya) tetap besar,” ujar Faisal.
Dengan meningkatnya biaya produksi, lanjut dia, tentunya industri merespons dengan melakukan efisiensi, tak terkecuali kemungkinan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja.
Faisal menambahkan, potensi pengurangan tenaga kerja ini bisa semakin besar jika dari sisi penjualan atau pasar juga ikut menurun.
“Maka kita tahu bahwa dari tekanannya juga ada di sisi hilir, di sisi market. Jadi kalau penjualan itu turun dimana itu turun otomatis mengurangi jumlah tenaga kerja. Jadi memang ada potensi pemutusan hubungan kerja atau PHK,” kata Faisal.
Selain mitigasi dari sisi pelaku industri, ia mengatakan pemerintah juga harus berperan langsung melalui rangkaian kebijakan pendukung guna mengantisipasi kemungkinan buruk akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini.
“Menurut saya salah satu faktor dari pelemahan nilai tukar bukan hanya dari faktor global tapi juga faktor domestik. Stabilitas makroekonomi termasuk masalah fiskal itu yang harus dijaga oleh pemerintah, termasuk disiplin fiskal yang juga menjadi sorotan,“ kata Faisal.
“Selain itu, termasuk governance dalam hal pelaksanaan program-program prioritas untuk meningkatkan atau menjaga kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia, dan juga kredibilitas daripada kebijakan pemerintah,” ujarnya menambahkan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: CORE: Substitusi bahan impor opsi industri hadapi pelemahan rupiah
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor:
Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026
