Logo Header Antaranews Jogja

Film Children of Heaven tayang di bioskop mulai 27 Mei

Rabu, 20 Mei 2026 23:29 WIB
Image Print
Sutradara Hanung Bramantyo. (ANTARA/HO-MDP)

Yogyakarta (ANTARA) - Film Children of Heaven versi Indonesia akan tayang di seluruh bioskop Tanah Air mulai 27 Mei 2026. Di tangan sutradara Hanung Bramantyo bersama MD Pictures, Children of Heaven hadir dalam versi yang bukan sekadar adaptasi, melainkan tafsir baru tentang cinta, kemiskinan, dan ketulusan anak-anak yang sering dilupakan.

Hampir tiga dekade lalu, sebuah film sederhana dari Iran diam-diam menaklukkan dunia. Tanpa ledakan, tanpa efek megah, tanpa bintang besar, hanya cerita tentang sepasang sepatu yang hilang. Namun, justru dari kesederhanaan itulah, Children of Heaven menjadi salah satu film paling menggetarkan sepanjang masa.

Versi orisinal film ini, yang merupakan karya Majid Majidi, pernah masuk nominasi Oscar 1998 dan bertahan sebagai salah satu film keluarga paling menyentuh sepanjang sejarah.

Kini, versi Indonesianya membawa napas baru dengan latar alam yang puitis di Parang Gombong, Purwakarta, Jawa Barat, hingga pinggiran Semarang, Jawa Tengah, yang menghadirkan visual yang tak hanya indah, tetapi juga terasa hidup.

"Kini kisah legendaris itu lahir kembali. Lebih dekat, lebih membumi, lebih Indonesia. Ini bukan film yang cukup 'ditonton'. Ini film yang akan diam-diam merobek hati, lalu menjahitnya kembali dengan hangat. Semua berawal dari hal kecil, sepatu yang hilang," kata Hanung Bramantyo dalam diskusi dan refleksi film, di Yogyakarta, Rabu.

Film ini mengisahkan Ali dan Zahra, dua kakak beradik dari keluarga sederhana. Kisah berawal ketika sepatu Zahra hilang. Kehilangan itu bukan sekadar masalah kecil, itu bisa menjadi beban baru bagi orang tua mereka, di tengah kondisi keluarga yang serba kekurangan.

Oleh karena itu, mereka memilih diam dan berbagi satu-satunya sepatu yang tersisa. Zahra berlari pulang secepat mungkin setelah sekolah, agar Ali bisa menggunakannya. Hari demi hari, langkah kecil itu berubah menjadi perjuangan sunyi.

Puncaknya datang saat Ali mengikuti lomba lari. Bukan untuk menjadi juara, bukan untuk piala, tetapi hanya untuk satu hal, sepasang sepatu untuk adiknya. Dalam lomba itu Ali justru berharap menjadi juara ketiga, karena hanya posisi itulah yang menghadiahkan sepatu. Sebuah keinginan kecil yang terasa begitu besar.

Dari situlah film ini berubah menjadi lebih dari sekadar cerita, tetapi menjadi pesan tentang bagaimana menghadapi hidup tanpa banyak mengeluh, tentang bagaimana anak-anak kecil justru bisa mengajarkan ketangguhan yang sering hilang pada orang dewasa.

"Film ini juga menjadi semacam 'perlawanan halus' terhadap zaman, di tengah generasi yang mudah mengeluh, mudah menyalahkan, mudah menyerah," kata Hanung Bramantyo.

Film ini menghadirkan pemain muda seperti Jared Ali dan Humaira Jahra hingga aktor berpengalaman seperti Slamet Rahardjo dan sejumlah komedian yang tampil dalam nuansa berbeda dari biasanya.

Di balik layar, Hanung turut menggandeng Muhammadiyah, yang menurutnya memiliki akar kuat dalam pendidikan karakter. Dukungan ini diharapkan menjadi awal lahirnya lebih banyak film bernilai dari lingkungan tersebut.

Kegiatan itu turut dihadiri Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. (Ketua PP Muhammadiyah), Dr. apt. Salmah Orbayinah, M. Kes (Ketua Umum PP 'Aisyiyah), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. (Ketua LSB PP Muhammadiyah), dan Firdauzi Cece (MD Pictures).



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026