Logo Header Antaranews Jogja

ANTARIKSA - SAE UNISA: Kampanyekan anti-judi online lewat semangat olahraga

Jumat, 22 Mei 2026 20:24 WIB
Image Print
ANTARIKSA menggandeng program Sport and Art Everymonth mengampanyekan bahaya judi online (judol) kepada kalangan generasi muda, di lingkungan Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Jumat (22/5). ANTARA/Ist

Yogyakarta (ANTARA) - Ajang Kreativitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (ANTARIKSA) menggandeng program Sport and Art Everymonth (SAE) untuk mengampanyekan bahaya judi online (judol) kepada kalangan generasi muda.

Kampanye kreatif yang dikemas melalui kegiatan olahraga dan interaksi langsung tersebut diselenggarakan di lingkungan Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Jumat (22/5).

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora (FEISHUM) UNISA Yogyakarta Nur Fitri Mutmainah menyambut baik kolaborasi tersebut.

Menurutnya pendekatan lewat kegiatan olahraga bulanan kampus membuat sosialisasi anti-judi online hadir dalam suasana yang lebih santai, partisipatif, dan relevan dengan mahasiswa.

Rangkaian kegiatan SAE diawali dengan senam bersama yang diikuti oleh mahasiswa serta civitas akademika UNISA Yogyakarta, dilanjutkan dengan aksi minum jamu bersama, permainan interaktif, kunjungan ke stan (tenant) program studi, dan ditutup dengan sesi bedah buku.

Di sela-sela kegiatan tersebut, tim ANTARIKSA secara aktif bergerak mengampanyekan gerakan anti-judol, dengan membagikan kartu pesan (sweet card) berisi kode QR yang menautkan peserta ke petisi anti-judi online, lengkap dengan bonus permen.

Selain itu, diadakan pula dialog langsung dengan para mahasiswa mengenai realitas dan dampak buruk judi online yang kerap menyasar generasi muda.

Pendekatan kreatif ini mendapat apresiasi dari dosen Bahasa Inggris UNISA Yogyakarta Farida Noor Rohmah yang menilai pemilihan ruang publik seperti event SAE sangat efektif untuk menjaring massa dalam jumlah besar.

"Karena adanya event ini melibatkan banyak mahasiswa dan dosen, kami sangat mendukung kampanye anti-judol di sini. Tujuannya pasti akan lebih tercapai karena sasarannya langsung terlibat aktif," ujar Farida.

Dukungan serupa juga datang dari mahasiswa Program Studi Manajemen Realdiansyah yang mengaku lebih tertarik dengan model sosialisasi persuasif tatap muka (face-to-face) yang dilakukan oleh panitia ANTARIKSA ketimbang metode ceramah formal.

"Kalau sosialisasi biasanya dilaksanakan formal di dalam ruangan, kita hanya mendengarkan pemateri dan itu kurang efektif. Tetapi dengan cara ini jauh lebih menarik karena panitia langsung berdialog dan memberikan wawasan terkait bahaya judi online kepada kami," kata Realdiansyah.

Melalui kolaborasi inklusif ini, ANTARIKSA berharap kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kesehatan finansial serta mental di era digital dapat terbangun kuat di kalangan generasi muda, tidak hanya di lingkungan kampus tetapi juga di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara luas.

Selain berkampanye, dalam kegiatan tersebut ANTARIKSA juga membuka penjualan produk serta layanan pemesanan (pre-order) suvenir resmi mereka.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026