
Antisipasi judi online remaja, ANTARIKSA UNISA sasar SMA di Yogyakarta

Yogyakarta (ANTARA) - Ajang Kreativitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang tergabung dalam gerakan ANTARIKSA menggelar kampanye kreatif berbentuk roadshow ke sejumlah sekolah menengah atas (SMA) sederajat di wilayah Yogyakarta untuk mengantisipasi maraknya jeratan judi online (judol) di kalangan remaja.
Salah satu sekolah yang menjadi sasaran sosialisasi ini adalah SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta pada Kamis (22/5), melalui metode diskusi interaktif, pemaparan data, dan tanya jawab, para mahasiswa mengedukasi pelajar mengenai dampak sistemik judol dari aspek mental, finansial, sosial, hingga hukum.
"Kami menyambut hangat kehadiran kampanye ANTARIKSA ini sebagai langkah nyata membentengi siswa dari ancaman digital," ujar Guru SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta Desi Imanuni, dalam sambutannya di Yogyakarta.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), kelompok usia 13 hingga 18 tahun merupakan pengguna internet terbesar di Indonesia dengan penetrasi mencapai 99,16 persen. Namun, tingginya angka tersebut berbanding lurus dengan kerentanan remaja yang disebut dua hingga empat kali lebih mudah terjerat perjudian dibandingkan orang dewasa.
Secara nasional, sekitar 3,5 persen dari total pengguna internet di Indonesia diperkirakan terlibat aktivitas judol, atau setara dengan estimasi 12,3 juta pengguna.
Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta Dewa Anggara, mengungkapkan paparan judol paling sering masuk melalui iklan yang menyusup di dalam aplikasi permainan (game online) maupun media sosial seperti Instagram dan WhatsApp.
Ia mengaku pernah mendapati kakak tingkatnya di sekolah yang tergiur mencoba judol karena iming-iming keuntungan instan. Meski telah memberikan peringatan, ajakan tersebut kerap diabaikan.
"Bagi saya pribadi, anggapan judi online bisa menghasilkan uang dengan cepat itu sama sekali tidak masuk akal. Mendapatkan uang tidak sesimpel itu," kata Dewa.
Sementara itu, siswi Kelas XI IPS, Adinda Khomsya Nur Anindia, menyoroti bahaya algoritma media sosial dan fenomena doom scrolling-kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa sadar selama berjam-jam sebagai pintu masuk utama paparan iklan judol.
Menurut Adinda tingginya intensitas pencarian kata kunci tertentu membuat sistem digital terus menyodorkan konten serupa ke linimasa pengguna. Ia pun mengaku prihatin dengan data yang menyebutkan lebih dari satu juta pelajar di Indonesia diduga telah terpapar komoditas ilegal tersebut.
"Pola pikir 'cuma coba-coba' adalah celah paling berbahaya. Skemanya sengaja dibuat menang dulu di awal, lalu ketagihan dan main terus. Itu jebakan sistem," tutur Adinda seraya menekankan pentingnya pengawasan ketat dari orang tua terhadap aktivitas digital anak.
Melalui gerakan advokasi berbasis mahasiswa ini, ANTARIKSA mendorong terbangunnya kesadaran kolektif dari level akar rumput agar generasi muda lebih bijak dalam berinteraksi di ruang siber, sekaligus memahami bahwa satu klik pada situs terlarang dapat merusak masa depan secara menyeluruh.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
