Kulon Progo (ANTARA Jogja) - Growol, makanan tradisional asal Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini mulai terpinggirkan seiring dengan perkembangan zaman, selain karena bau makanan itu tidak sedap.

"Pembeli growol tidak seperti zaman saya kecil, jumlahnya cukup banyak. Generasi sekarang tidak ada yang suka dengan alasan bau growol tidak sedap," kata Satijem (70), pembuat dan penjual growol di Pasar Sentolo, Kulon Progo, Kamis.

Satijem warga Butuh, Nganggrung, Kecamatan Lendah, Kulon Progo, sampai saat ini atau selama 50 tahun berjualan growol, meski keuntungan yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ia berjualan makanan tersebut dua kali setiap minggu di pasar tradisional Sentolo.

Satijem mengatakan growol dibuat dengan bahan baku ketela yang direndam selama tiga hari. Tetapi setiap hari dibilas dua kali, yaitu pagi dan sore.

Setelah direndam, ditiriskan, kemudian diperas hingga tidak ada airnya. Proses selanjutnya dimasak atau dikukus selama satu jam.

Menurut dia, growol bisa membantu menyembuhkan penyakit gula, atau diabetes. "Cara makan growol mudah, yakni cukup dicampur dengan parutan kelapa muda, serta diberi sedikit garam," katanya.

Ia mengatakan bahan baku berupa ketela dibeli dari Wonosobo, Jawa Tengah, dengan harga Rp1.500 per kilogram. "Setiap tiga hari sekali tengkulak ketela mengantar ketela ke rumah saya," katanya.

Satijem mengatakan harga ketela pernah mencapai Rp2.500 per kilogram. "Kalau harga ketela mahal, keuntungan saya sangat sedikit," katanya.

Ia tidak mematok harga growolnya. Berapa pun permintaan pembeli dilayani. "Ada yang membeli Rp1.000, tetap saya layani," katanya.

Satijem mengatakan, dari pada hanya diam di rumah, tidak bekerja, dan merepotkan anak-cucu, maka dirinya sampai sekarang masih terus berjualan growol. "Growol sudah menjadi bagian hidup saya," katanya.

(KR-STR)