Dosen tunanetra keliling Indonesia demi gelar profesor

id dosen tunanetra keliling indonesia

Dosen tunanetra keliling Indonesia demi gelar profesor

Ilustrasi (Foto fitb.itb.ac.id)

Kotabaru (ANTARA Jogja) - Seorang dosen tunanetra Dr Hj Murtini SH MM, yang berasal dari Padang Sumatera Barat berkunjung ke Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bagian kegiatannya mengelilingi Indonesia demi mencapai gelar profesor.

"Sebenarnya saya ingin membuat buku tentang pelayanan publik di semua instansi pemerintah di Indonesia," ujar Murtini, Senin.

Dia juga berusaha untuk memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) tentang pelayanan publik terhadap orang cacat.

Murtini mengaku mendapatkan bermacam-macam sambutan dalam keliling Indonesia, termasuk saat berkunjung di Kabupaten Kotabaru.

"Saya ini cacat tidak bisa melihat, kami juga sempat diperlakukan sedikit tidak menyenangkan di Kepolisian Kotabaru," ujar Dosen Universitas Riau itu.

Ia berharap, dari hasil perjalanannya itu bisa menjadi modal bagi dirinya, untuk mendapatkan gelar Profesor.

Wanita itu mengaku semangatnya tidak pernah luntur untuk meraih cita-citanya.

"Walaupun nanti gelar itu diraih dengan penghargaan," harapnya.

Dalam melakukan perjalanan, Murtini tidak pernah meminta bantuan biaya dari pihak lain, meskipun ia juga tidak menolak, ketika ada orang yang memberikan bantuan untuk biaya perjalanannya.

"Saya mulai dengan uang hasil tabungan saya sendiri semenjak menjadi guru dan dosen," ucap perempuan kelahiran 19 Meret 1958 yang tercatat sebagai warga Komplek Perwira Tinggi Cibubur RT 1/15 itu.

Selama menjelajah, ia jalan sendiri, kalau pun diantar, maka dia tidak mau sampai ke dalam kantor.

"Tapi saya diantar hanya sampai di depan kantor, setelah itu saya akan masuk sendiri," katanya.

Ia optimis akan dapat mencapai gelar profesor dan memecahkan rekor MURI setelah seluruh instansi pemerintah di Indonesia terjelajahi, pungkasnya.

(I022)


Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.