
Petani dapat tanam padi pada musim kemarau

Gunung Kidul (ANTARA Jogja) - Kalangan petani di Dusun Plumbungan, Desa Putat, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meski musim kemarau dapat menanam padi dengan ketersediaan air yang melimpah.
"Kami dapat panen padi dalam setahunnya mencapai tiga kali. Hasilnya juga sangat bagus, dengan tiga petak lahan atau 1.000 meter persegi dapat menghasilkan sembilan hingga 10 karung gabah kering panen," kata petani Kardilah (49) di Gunung Kidul, Rabu.
Ia mengatakan, petani di Plumbungan memanfaatkan mata air "Sumbersari" sehingga area persawahan tidak pernah kekeringan dan air melimpah sepanjang tahun. Karena tanahnya berbukit, petani menerapkan sistem terasiring supaya kesuburan tanah tetap terjaga dan pengairan juga merata.
"Air melimpah sepanjang tahun, dan kondisi tanah sendiri sangat subur dan gembur," kata Kardilah.
Ia mengatakan, pupuk dan benih yang ditanam merupakan bantuan dari pemerintah yakni pupuk bersubdisi dan benih Cieherang atau infari 13 secara gratis.
"Tapi petani di sini menggunakan benih Cieherang dan IR 64, karena hasilnya sangat bagus. Beda dengan Infari 13, hasilnya kelihatannya bagus tapi ketika dipanen hanya menghasilkan enam hingga tujuh karung," kata Kardilah.
Kata dia, harga gabah di tingkat penggilangan mencapai Rp5.600 per kilogram gabah kering giling. Kalau dijual beras berkisar Rp6.400 sampai Rp6.700 per kilogramnya.
"Petani di sini jarang menjual beras atau gabah, karena untuk persediaan makan sendiri. Kalau jual beras hanya kalau ada kebuthan mendesak seperti untuk biaya sekolah," kata Kardilah.]
Petani Mujiyo, juga mengatakan, hasil panen setiap kali panen sangat bagus. Dengan luas tanahnya 1.500 meter persegi menghasilkan 11 kantong gabah kering panen.
"Saya tidak menggunakan pupuk kimia, hanya menggunakan pupuk kandang. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk penanaman tidak membutuhkan banyak dan hasilnya juga sangat memuaskan," kata dia.
Terkait serangan hama wereng, kata dia, sering terjadi serangan hama khususnya hama wereng cokelat dan ulat yang menyerang langsung daun dan sari buliran padi.
"Untuk mengatasi masalah itu, kami melakukan pengasapan rutin. Meski tidak sepenuhnya mati, tapi cara pengasapan cukup ampuh untuk mengusir hama," kata Mujiyo.
(U.KR-STR)
Pewarta :
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
