
Relasi sosial berpengaruh terhadap kreativitas tari

Jogja (ANTARA Jogja) - Relasi sosial berpengaruh dalam proses lahirnya kreativitas kesenian tradisional Tari Soreng dan Gupolo Gunung, kata peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Paramitha Dyah Fitriasari.
"Melalui hubungan sosial, masyarakat Desa Banyusidi, Pakis, Magelang, Jawa Tengah, itu menyerap informasi dan membuka diri terhadap semua aspek yang dapat mendukung dan memperkaya kesenian tersebut," katanya di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia proses kreativitas dalam kedua tarian tersebut ikut dipengaruhi dukungan kolektif masyarakat kaki Gunung Merbabu itu. Tanpa dukungan masyarakat, kesenian itu tidak akan dapat bertahan di tengah arus perkembangan zaman.
"Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang juga ikut mendukung lahirnya kreativitas masyarakat setempat dalam mengembangkan kedua tarian tersebut," kata dosen Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Sekolah Pascasarjana UGM itu.
Ia mengatakan Tari Soreng dan Gupolo Gunung merupakan kesenian tradisional yang telah lama hidup dan berkembang di masyarakat lereng Gunung Merbabu.
Soreng merupakan tari yang dibawakan oleh 17-40 penari dengan tema kepahlawanan. Seiring perkembangan zaman, muncul improvisasi dalam kedua tarian itu.
Pada kesenian Soreng, improvisasi terlihat pada musik iringan yang dilakukan dengan menambah penggunaan alat musik modern seperti drum maupun menambah ornamen, tetapi tidak mengubah pola dasar iringan.
Selain itu, dalam perbendaharaan gerak pada tarian juga tampak adanya improvisasi dengan menambah aksen gerakan baik pada gerakan tangan maupun kaki.
Menurut dia perubahan juga terjadi pada kesenian Gupolo Gunung. Misalnya, gerakan akan diubah ketika para penarinya tidak mampu melakukannya kemudian disesuaikan dengan iringan yang ada.
Selain itu, juga ada penambahan pada jumlah alat musik truntung yang awalnya hanya menggunakan satu buah menjadi 10-15 buah serta menggunakan alat musik modern yakni bas drum.
Ia mengatakan dari hasil penelitian yang dilakukannya diketahui bahwa kreativitas dalam mengembangkan kedua jenis tarian tradisional khas daerah tersebut tidak hanya muncul secara kolektif masyarakat, tetapi juga melalui penciptaan secara individu.
"Meskipun diciptakan secara individu, tetapi bisa menjadi tradisi karena ada kerelaan dari penciptanya untuk dapat menjadi milik kolektif atau masyarakat," paparnya.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
