
Keris dan tombak Sunan Kudus dijamas

Kudus (ANTARA Jogja) - Sebilah keris yang dikenal dengan nama keris Kiai Cinthaka serta dua tombak yang juga peninggalan Sunan Kudus, dijamas di kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah, Kamis.
Keris Kiai Cinthaka tersebut diperkirakan berasal dari zaman Majapahit akhir, sedangkan bentuk atau tipe bilah kerisnya merupakan "Dapur Panimbal" yang memiliki makna kebijaksanaan dan kekuasaan.
Kegiatan ritual tersebut dilakukan setiap Senin atau Kamis pada pekan pertama setelah hari Tasrikh, atau 11 sampai dengan 13 Dzulhijjah.
Ritual yang diselenggarakan setiap tahun itu, dipusatkan di bangunan tajug, depan pintu masuk kompleks makam Sunan Kudus.
Ritual penjamasan yang dimulai sekitar pukul 07.25 WIB, diawali dengan ziarah ke Makam Sunan Kudus yang dipimpin oleh Kiai Choiruzzyad TA, kemudian petugas mengambil dan menurunkan keris Kiai Cinthaka yang berada di dalam peti yang diletakkan di bagian atas pendapa tajuk.
Selanjutnya, keris disiram "banyu landa" (bahasa jawa) atau air rendaman merang ketan hitam hingga tiga kali.
Kemudian, dibersihkan menggunakan air jeruk nipis dan kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di atas sekam ketan hitam oleh ahli penjamasan, yakni Haji Fakihudin.
Usai pengeringan, keris kembali dimasukkan ke dalam air rendaman merang ketan hitam, kemudian dijemur hingga kering.
Selanjutnya, keris dikembalikan ke tempat semula dengan disaksikan sejumlah ulama setempat dengan diiringi bacaan salawat.
Penjamasan berikutnya, yakni dua mata tombak yang dibersihkan dengan menggunakan merang ketan hitam, air jeruk nipis, kemudian dikeringkan dengan sekam ketan hitam.
Air jeruk nipis dipercaya dapat mencegah karat pada benda pusaka yang berumur ratusan tahun itu.
Menurut Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Muhammad Nadjib Hassan, di Kudus, ritual penjamasan keris Sunan Kudus merupakan ritual yang biasa dilakukan oleh pendahulunya sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang.
Penjamasan keris dan tombak pada tahun lalu, katanya, dilaksanakan pada Senin, sedangkan tahun ini hari Kamis.
Ritual penjamasan diawali dengan ritual keagamaan dan doa bersama yang dipimpin ulama sepuh yang bernama Kiai Choiruzzyad TA.
Setelah penjamasan, keris dikembalikan ke tempat semula yakni berada di atap bangunan tajuk yang disediakan tempat khusus untuk penyimpanannya dengan diiringi bacaan selawat.
Sebelum disimpan di tajuk, keris tersebut dimasukkan ke dalam peti yang sudah tersedia, kemudian dibungkus dengan kain mori berwarna putih.
Sementara dua tombak, dikembalikan di tempatnya semula di dekat mimbar imam masjid peninggalan Sunan Kudus untuk memimpin salat berjamaah.
Usai prosesi tersebut, dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan menu khas "jajan pasar" dan nasi opor ayam.
Hidangan nasi opor ayam, katanya, baru berjalan sekitar 10 tahun yang lalu, guna menghormati salah satu menu kesukaan Sunan Kudus.
(KR-AN)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
