Objek wisata Ceking Gianyar ramai pengunjung

id objek wiusata ceking

Objek wisata Ceking Gianyar ramai pengunjung

Objek wisata Ceking Bali (wisatabalinews.blogspoot)

Gianyar (Antara Jogja) - Objek Wisata Ceking di kawasan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali yang menyuguhkan keindahan panorama alam persawahan yang bertingkat-tingkat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

"Objek wisata yang dikelola desa pekraman (adat) setempat mampu menghasilkan lebih dari Rp100 juta setiap bulannya dari retribusi karcis masuk dan parkir," kata Bendahara pengelola objek wisata tersebut, Dewa Putu Raka Selangga, Jumat.

Ia mengatakan, wisatawan mancanegara tertarik berkunjung ke objek wisata itu panorama alam sawah yang bertingkat-tingkat hampir mirip dengan kawasan subak Jatiluwih, Kabupaten Tabanan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (WBD).

Objek wisata yang dikelola desa adat secara profesional itu, sejak dulu selalu ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.

Dewa Putu Raka menjelaskan, kondisi itu membawa dampak positif bagi masyarakat setempat, untuk berjualan dengan membangun toko kerajinan industri kecil serta rumah makan di sepanjang jalan wilayah Ceking, Tegallalang.

Namun kehadiran bangunan-bangunan permanen itu belum ditata secara maksimal sehingga tampak kurang kurang beraturan, tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang asri dan lestari.

Dewa Putu Raka menambahkan, desa adat Ceking mendapat kepercayaan dari Pemkab Gianyar mengelola objek wisata tersebut sejak 10 Maret 2012 mulai ditata menyangkut tempat parkir, toko maupun arus lalu lintas.

Sesuai kesepakatan pendapatan objek wisata itu sebesar Rp100 juta setiap bulannya, penggunaannya diarahkan untuk biaya operasional 32,34 persen, iuran ke Desa Pakraman Tegallalang 35 persen, investasi 30 persen dan askes 2,66 persen.

Beberapa kendala yang dihadapi antara lain banyaknya bus pariwisata ukuran besar tidak tertampung parkir sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas di daerah itu.

Untuk itu perlu memperluas tempat parkir dengan cara menyewa lahan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Menurut salah seorang petani pemilik terasering, I Made Sutha asal Banjar Kebon, Desa Kedisan, pihaknya bersama 14 petani pemilik sawah yang menjadi objek, sudah mendapatkan kontribusi sumbangan dana pemeliharaan dari Desa Pakraman
Tegallalang sebesar Rp 500.000 setiap bulan per pemilik lahan.

Imbalan itu dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan pendapatan yang mencapai ratusan juta rupiah. Sementara untuk menjaga dan memelihara kelestarian sawah yang berundang-undag itu memiliki medan sangat sulit.

"Kami harapkan pemerintah bisa membantu para petani, khususnya yang ada di wilayah Ceking" ungkapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, Cokorda Gde Rai Widiarsa P. menjelaskan, Pemkab bisa membantu para petani di Objek Ceking, jika sudah terdafatar dalam sebuah oragnisasi subuk.

Karena bantuan pemerintah Provinsi Bali dan kabupaten Gianyar mekanismenya hanya bisa disalurkan lewat organisasi subak.

Hingga saat ini ke-14 petani pemilik lahan di ceking belum terdaftar dalam subak, sehingga kesulitan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.
(T.KR-MDE)


Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.