Logo Header Antaranews Jogja

OMK Kulon Progo gelar festival kesenian tradisional

Rabu, 26 Juni 2013 16:53 WIB
Image Print
Kesenian "Jatilan" (Foto ANTARA)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Orang Muda Katolik Rayon Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Festival Kesenian Tradisional 2013 dengan mengusung tema "Ngrukti Bumi Amrih Lestari Titah Ilahi" di Kecamatan Kalibawang pada Minggu (30/6).

Ketua Panitia Festival Kesenian Tradisional (FKT) 2013 Bonifatius Galih Krismahardika di Kulon Progo, Rabu, mengatakan festival itu mengajak umat manusia untuk merefleksikan kembali karya penciptaan dan perutusan manusia.

"`Ngrukti Bumi Amrih Lestari Titah Ilahi` merupakan gerakan kembali kepada Allah Sang Pencipta yang menginginkan semua tetap baik adanya bahkan amat baik. Manusia sebagai citra Allah, rekan kerja Allah, untuk menjaga alam semesta ini," katanya.

Ia mengatakan FKT OMK Kulon Progo merupakan kegiatan tahunan dan sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir.

Kegiatan FKT OMK Kulon Progo 2013, kata Galuh, rencananya menampilkan kesenian berasal dari Kabupaten Kulon Progo, yaitu Janggukbetantan "Wahyu Trinijining Pertiwi" oleh OMK Promasan, sendratari kolosal "Baritan" (OMK Boro), sendratari kolosal "Angrukti Pertiwi" (OMK Nanggulan), sendratari "Enjer Kethek Sugriwa Subali" (OMK Pelem Dukuh), kesenian rakyat "Menthek" (OMK Bonoharjo), "Incling" (OMK Wates), reog wayang "Semar Bangun Khayangan" (OMK Brosot), dan kesenian lokal "Setrek Muslim" (Tanjung-Nggendhol Kalibawang).

Selain itu, OMK Kulon Progo mengundang penampil berasal dari luar Kulon Progo, yaitu FKKMK Kedu, seperti Magelang dan Temanggung (Jawa Tengah) yang akan menampilkan kesenian rakyat "Babad Sedulur Merapi" dan Teater Lilin Universitas Atmajaya Yogyakarta.

"Berkesenian tidak hanya dimaknai dengan hanya menampilkan sebuah pertunjukan seni, namun dapat menjadi sarana mengolah rasa dalam membentuk pribadi berbudi dan arif dalam hidup yang berdampingan dengan alam dan sesama manusia," kata dia.

Diskripsi dari berbagai pertunjukan kesenian tradisional tersebut, kata Galih, "Janggukbetantan" yaitu kolaborasi antara jathilan, angguk, bedaya, sholawatan, dan karawitan yang digarap oleh OMK Promasan dengan judul "Wahyu Trinijining Pertiwi".

Ia menjelaskan pementasan itu mengisahkan bahwa alam pada awalnya baik, akan tetapi goda dan dosa selalu menyelimuti manusia sehingga keserakahan meraja dalam jiwa manusia.

Ia mengatakan Allah dengan belas kasih-Nya kepada ciptaan-Nya mengirim utusan untuk kembali lagi turun ke bumi dengan membawa pusaka ampuh untuk memulihkan bumi ciptaan-Nya, seperti awal mula yang harmoni dan sempurna.

Selain itu, katanya, OMK Boro akan menampilkan sendratari kolosal dengan lakon "Baritan".

Ia menjelaskan lakon itu menceritakan hubungan manusia dengan hewan dan dunia pertanian. Diciptakanlah alam pertanian dengan segala isinya, tumbuhan, hewan, dan manusia diciptakan baik adanya.

Lakon itu juga menceritakan isi alam tercipta keharmonisan secara alami, semua berjalan sebagaimana mestinya sesuai peran masing-masing.

Namun, keharmonisan yang sudah terjalin sekian lama akhirnya perlahan-lahan terkoyak karena keserakahan manusia. Manusia masih ingat untuk mengucap syukur atas hasil yang mereka terima sehingga mereka kemudian membuat upacara ucap syukur yang disebut "baritan".

Sendratari kolosal yang dibawakan OMK Nanggulan dengan lakon "Angrukti Pertiwi", katanya, menceritakan bahwa musibah sebagai peringatan pada manusia, supaya hidup lebih baik, rukun, dan damai dalam kebersamaan dengan saling menolong dan perduli terhadap alam ciptaan.

"`Bumi Lestari, Hidup Tentram, dan Damai`," katanya.

Sendratari "Enjer Kethek Sugriwa Subali" yang akan ditampilkan oleh OMK Pelem Dukuh, Kecamatan Girimulyo, katanya, mengisahkan Prabu Subali sebagai tokoh pemrakarsa penyelamat alam, bekerja bahu membahu dengan rakyat membangun dan menata alam kembali hingga tercipta kedamaian, ketentraman, dan menjadi kerajaan yang subur dan makmur.

Ia mengatakan OMK Brosot akan menampilkan reog berkolaborasi dengan cerita sendratari dalam pewayangan, yaitu "Semar Mbangun Khayangan".

Semar, katanya, dapat menjadi teladan sikap hidup yang saling menyapa dan menyaudara. Semangat itu dapat dipupuk dalam kegiatan berkesenian.

Dengan sikap hidup yang sederhana, katanya, manusia dapat menjaga dan melestarikan alam dengan tidak bersikap rakus dan tamak dalam memanfaatkan alam dan sekitarnya.

"Kami berharap agar nilai-nilai baik dalam FKT ini dapat diteladani oleh semua yang terlibat dalam pertunjukan, maupun penonton yang akan menyaksikan pertunjukkan," katanya.


(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026