Bantul, (Antara Jogja) - Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak sempat memeriksa kadaluwarsa kemasan pestisida yang diberikan petani untuk mengendalikan hama wereng cokelat di daerah ini.
"Memang ada bantuan pestisida ke petani yang terkena wereng, dan itu ada bantuan (pestisida) dari provinsi (Pemda DIY) juga, kami sempat ngecek satu-satu," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Yunianti Setyorini di Bantul, Senin.
Menurut dia, pernyataan itu menanggapi adanya kabar para petani di Dusun Greges, Desa Donotirto, Kretek yang menerima bantuan pestisida merek tsubame dan burprosida yang sudah kadaluwarsa karena pada botolnya tertulis "Baik digunakan sebelum 2011".
Menurut dia, instansinya setiap tahun memang rutin mengalokasikan anggaran pengadaan obat-obatan tanaman pertanian untuk mencegah maupun mengendalikan serangan penyakit seperti wereng termasuk pada tahun 2016.
Ia mengatakan, besaran anggaran pengadaan setiap tahun fluktuatif tergantung kebutuhan, namun demikian pihaknya juga rutin menerima bantuan dari Pemerintah DIY dan pemerintah pusat untuk mendukung ketersediaan obat-obatan di daerah.
Namun demikian, pada pendistribusian bantuan pestisida untuk mengatasi serangan wereng cokelat, pihaknya tidak sempat mengecek, karena kelabakan mengingat serangan wereng berlangsung cepat dan hanya butuh waktu empat hingga tujuh hari.
"Luas tanaman padi yang diserang wereng cokelat seluas 140,9 hektare yang tersebar merata di empat kecamatan yaitu Kretek, Sanden, Srandakan, dan Bambanglipuro. Semuanya kita semprot," katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Bantul, Suradal mengatakan, mengkritik kelalaian Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul dalam memberikan pestisida, sehigga lembaganya akan membahas persoalan ini dalam rapat kerja dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) itu,
"Ini jangan sampai terulang lagi, karena yang rugi justru para petani, kalau ceroboh program swasembada atau bahkan mungkin kedaulatan pangan bisa gagal," kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Sebelumnya, petani di Dusun Greges, Yudi Harjono mengatakan, serangan wereng cokelat penghisap batang padi di daerahnya muncul sekitar dua minggu lalu saat padi sedang mulai mengalami pembuahan dengan usia 60 sampai 20 hari.
Karena serangan hama tersebut, petani kemudian melaporkan ke mantri tani atau petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan direspons dengan memberikan bantuan pestisida untuk mengendalikan serangan.
"Sudah disemprotkan, namun wereng masih belum terkendali, kemudian waktu kita cek pada botol kemasan obat, ternyata tulisannya "baik digunakan sebelum tahun 2011", padahal ini sudah tahun 2016," katanya.
Pihaknya berharap ke depan Dinas Pertanian lebih cepat tanggap, sebab serangan hama wereng cokelat sangat cepat, bahkan ada beberapa hektare sawah di daerahnya yang mengalami gagal panen akibat serangan itu.***3***
(KR-HRI)
