Artis Mawar De Jongh ingin orang baca buku karya Pramoedya

id bumi manusia,mawar eva de jongh,mawar de jongh

Pemain film Bumi Manusia, Ayu Laksmi dan Mawar Eva de Jongh dalam kunjungannya ke LKBN ANTARA, Rabu (31/7). (ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Aktris muda Mawar Eva De Jongh berharap adanya Film "Bumi Manusia" yang diadaptasi dari karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer dapat membuat semakin banyak orang tertarik menikmati karya-karyanya.

Remaja 17 tahun itu mengaku baru mengenal karya Pram setelah ditawari berperan sebagai Annelies di Film "Bumi Manusia" yang disutradarai Hanung Bramantyo.

"Aku harap setelah nonton Bumi Manusia banyak orang orang lain mau membaca bukunya," ujar Mawar saat berkunjung ke kantor berita ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Mawar harus belajar banyak hal untuk menyelami karakter Annelies. Gadis berdarah Batak-Belanda ini dituntut untuk menguasai tutur bahasa Belanda zaman dulu dan bahasa Jawa.

Meski darah Belanda mengalir dalam diri Mawar, bahasa yang ia pahami adalah bahasa masa kini dengan kata "slang" di sana sini.

Cara berjalannya juga ia perbaiki agar terlihat lebih feminin dengan membiasakan diri memakai rok panjang sejak mulai membedah naskah.

"Bumi Manusia" adalah film layar lebar kelima bagi bungsu dari dua bersaudara tersebut.

Film itu akan tayang pada 15 Agustus dan dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara, dan Jerome Kurnia serta Bryan Domani.

"Bumi Manusia" adalah buku pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis ketika Pramoedya mendekam di Pulau Buru. Pram menulis kisah ini pada bekas kertas bungkusan semen, sebelum akhirnya ditulis pada 1975.

Novel yang kisahnya berlatar belakang kebangkitan nasional antara 1890-1918 ini sempat dilarang beredar pada masa Orde Baru.

"Bumi Manusia" berkisah tentang perjalanan Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan), pribumi revolusioner di zaman kolonial Belanda yang berani melawan ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya.

Baca juga: Rumah artis Bella Swan "Twilight" disewakan
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar