Melebur rindu di konser Dewa 19

id dewa 19,ahmad dhani,baladewa,konser musik,corona konser,corona musik,ari lasso,lyodra,RCTI,isyana saraswati,avli rev,cam

Melebur rindu di konser Dewa 19

Band Dewa 19 dengan vokalis Once Mekel tampil menghibur penonton pada konser The Best of Dewa 19 di The Kasablanka Hall, Jakarta, Jumat (4/10/2019). Konser bertajuk reuni Dewa 19 bersama Once Mekel tersebut membawakan 20 judul lagu menghibur fansnya. ANTARA FOTO/Reno Esnir /pd. (ANTARA/RENO ESNIR)

Jakarta (ANTARA) - Pandemi virus corona membuat aktivitas panggung musik bak mati suri.
  
Banyak konser dan pagelaran seni lain yang terpaksa terhenti demi menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak agar penyebaran virus corona tidak semakin bertambah.

Dewa 19 adalah salah satu band besar Tanah Air yang terkena imbasnya.

Usai sang pentolan band, Ahmad Dhani, dibebaskan sehabis mendekam kurang lebih 1,5 tahun di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Timur atas hukuman akibat kasus ujaran kebencian, aktivitas Dewa 19 mulai menggeliat di awal tahun 2020.

Band tersebut sudah menggadang-gadang sebuah tur konser perayaan album "Bintang Lima" yang ke-20 tahun di tahun 2020.

Dewa 19 pun menggelar rangkaian konser yang dimulai dari Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya.

Sayangnya, usai menggelar konser di Surabaya pada sekira Maret 2020 di Grand City Convention Hall Surabaya, Dewa 19 harus menghentikan langkahnya.

Akibat wabah virus corona, band menunda konser di tiga kota berikutnya, yakni Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Malam tadi, Dewa 19 akhirnya melebur rindu para Baladewa yang derana menanggung keinginan kuat berjumpa dan bernyanyi bersama para idola.

Dewa 19 menggelar konser di televisi RCTI bertajuk "Mega Konser Dewa Sepanjang Masa" pada Minggu (18/10) malam dimulai pukul 22.00.

Malam itu, Dewa 19 membawakan sederet lagu hits yang melegenda di Indonesia seperti "Roman Picisan", "Kangen", "Aku Milikmu", "Kirana", "Risalah Hati".



Mega konser Dewa 19

Mantan vokalis Dewa 19, Ari Lasso membuka konser dengan penampilannya membawakan "Roman Picisan".

Lirik demi lirik yang dia lantunkan meruntuhkan dinding-dinding rindu para Baladewa.

Ari Lasso menyanyi diiringi oleh Ahmad Dhani pada kibor, Andra pada gitar, Yuke Sampurna pada bass, dan Agung Yudha pada posisi drum.

Menggantikan Ari Lasso di tengah panggung, Ahmad Dhani dengan mengenakan jaket kulit menyeruak ke tengah panggung melantunkan "Lelaki Pecemburu" dengan iringan vokal Ari Lasso sebagai latar belakang.

Penampilan Ahmad Dhani dan Ari Lasso di panggung yang sama seolah mengajak para pemirsa bernostalgia, membawa kembali ke era tahun 90-an awal.

Konser malam itu tak hanya menampilkan para musisi yang masih atau juga pernah bergabung dengan band. Sederet penyanyi seperti juara Indonesian Idol 2020 Lyodra Ginting juga turut memeriahkan panggung.

Tampil bak malaikat dengan gaun warna putih, Lyodra sukses membawakan "Risalah Hati" dengan diiringi Dewa 19 yang berpakaian serba hitam.

Kemampuan vokal jebolan Festival Sanremo Junior 2017 itu membuat lagu ciptaan Ahmad Dhani terdengar megah.

Band Lucky Laki yang beranggotakan tiga anak Ahmad Dhani yakni Al Ghazali, El Jallaludin Rumi dan Dul Jaelani membawakan "Pupus".

Meski tampil tanpa El yang masih menempuh studi di London, Lucky Laki tampil penuh semangat.

Konser lantas dilanjutkan dengan penampilan Isyana Saraswati yang membawakan "Cukup Siti Nurbaya".



Meski mengaku itu adalah kolaborasi Isyana yang pertama dengan Dewa 19 formasi lengkap, Isyana sukses membawakan lagu yang dirilis tahun 1995 itu dengan gayanya sendiri.

Isyana mengatakan kesempatan bernyanyi bersama band Dewa 19 adalah mimpi yang jadi kenyataan.

"Aku seneng banget (bisa tampil bersama) karena Dewa band legend. Aku sampai cover lagu cinta sama Afgan dan Rendy (Pandugo). Ini dream come true," kata Isyana di sela-sela penampilannya.

Membawakan lagu "Siti Nurbaya", menurut dia cukup sulit karena tipe suaranya yang dirasa tak cocok dan dia harus menyesuaikan suaranya dengan lagu tersebut. Namun Ahmad Dhani segera menepis dan memuji penampilan Isyana.

"Keren kok tadi nyanyinya," kata Dhani.

Usai penampilan Isyana, Andi Fadly Arifuddin tampil membawakan "Pangeran Cinta".

Ari Lasso kembali ke panggung membawakan "Kangen" disusul duet Lyodra dan Ahmad Dhani melantunkan "Mistikus Cinta" dengan hentakan musik besutan Avli Rev.

Panggung konser yang penuh nostalgia mendadak berubah jadi ceria saat trio Tasya Rosmala, Happy Asmara dan Jihan Audy membawakan "Separuh Nafas" versi campursari.

Nada-nada ceria nan catchy menyemarakkan malam.

Panggung kembali melankolis saat lagu "Cinta 'kan Membawamu" dibawakan duet oleh Isyana Saraswati dan Dul Jaelani lengkap dengan kibor mereka masing-masing.



Lagu "Kirana" yang manis ciptaan Erwin Prasetya dan Ahmad Dhani pun tak ketinggalan dibawakan Ari Lasso malam itu.

Konser berdurasi 2,5 jam itu berlanjut dengan sejumlah lagu lain seperti "Masihkah Ada", "Cinta Gila", "Satu yang Tak Bisa Lepas", "Restoe Boemi", "Aku Milikmu", "satu Hati (Kita Semestinya)", hingga "Persembahan dari Surga" sebagai lagu pamungkas konser malam itu. Sayangnya Once Mekel, vokalis yang pernah bersama dengan Dewa menggantikan Ari Lasso tak tampak di panggung malam itu.

Sejarah Dewa 19

Dewa dibentuk pada 1986 dengan personel awal di antaranya Dhani pada kibor. Lalu Erwin pada bass, sementara Wawan jadi penggebuk drum dan Andra pada gitar.

Nama Dewa diilhami dari akronim nama para personel yang berawal dari perkenalan mereka saat masih duduk di bangku SMP 6 Surabaya.

"Dewa ngefans sama Slank dan KLA Project dan kita pengin punya nasib yang sama seperti mereka," kata Dhani.

KLA Project memberikan inspirasi musik pop New Wave, sementara band rock Slank memberikan warna rock pada band.

Seiring waktu berjalan, Ari Lasso dan Once Mekel sempat bergabung dengan Dewa 19 dan menempati posisi sebagai vokalis.

Dewa 19 berhasil menelurkan beberapa album yang laris di pasaran, seperi "Dewa 19" (1992), "Format Masa Depan" (1994), "Terbaik Terbaik" (1995), "Pandawa Lima" (1997), "Bintang Lima" (2000), "Cintailah Cinta" (2002), "Laskar Cinta" (2004), dan "Republik Cinta" (2006).
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar