Meneladani spiritualitas ekonomi Rasulullah

id maulid nabi,rasulullah,teladan nabi,ekonomi inklusif,Nabi Muhammad SAW,konsep ekonomi Rasulullah Oleh Lucky Akbar *)

Meneladani spiritualitas ekonomi Rasulullah

Umat Islam berselawat nabi mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (4/9/2025). Kegiatan yang diisi dengan istigasah dan selawat tersebut dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.

Implementasi

Untuk mewujudkan ekonomi yang meneladani Rasulullah, diperlukan langkah strategis yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pertama, reformasi kebijakan fiskal dan sosial. Optimalisasi zakat, wakaf, dan corporate social responsibility (CSR) dapat menjadi instrumen pembangunan yang efektif.

Contoh nyata adalah program Zakat Produktif BAZNAS yang menyalurkan dana zakat untuk modal usaha mikro, sehingga penerima manfaat tidak hanya menerima bantuan konsumtif, tetapi juga diberdayakan secara ekonomi. Ke depan, integrasi zakat dan wakaf dengan platform digital, seperti Lazismu Online atau Kitabisa serta Lazisnu dapat diperluas agar transparansi dan jangkauan semakin luas. Selain itu, pemerintah dapat memberikan subsidi dan insentif bagi sektor padat karya, seperti pertanian dan perikanan, yang terbukti menyerap tenaga kerja miskin.

Kedua, pemberdayaan UMKM dan koperasi syariah. Saat ini, UMKM menyumbang lebih dari 60 persen PDB Indonesia, namun akses pembiayaan masih menjadi kendala. Program KUR Syariah yang sudah berjalan bisa diperkuat dengan pendampingan usaha dan pelatihan keterampilan berbasis digital. Koperasi syariah, seperti BMT (Baitul Maal wat Tamwil) juga dapat dikembangkan untuk menjangkau pelaku usaha kecil di desa-desa, sehingga mereka tidak terjerat rentenir.

Ketiga, pendidikan ekonomi berbasis nilai. Rasulullah menekankan kejujuran dan amanah dalam bisnis, nilai yang kini semakin penting di tengah maraknya praktik curang. Integrasi etika bisnis Islam dalam kurikulum ekonomi di perguruan tinggi dan pelatihan wirausaha dapat membentuk generasi pengusaha yang berintegritas. Kampanye publik, seperti Gerakan Nasional Literasi Keuangan Syariah yang digagas OJK bisa diperluas agar masyarakat memahami pentingnya kejujuran dan tanggung jawab sosial dalam bisnis.

Keempat, digitalisasi inklusif. Teknologi harus menjadi alat untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha kecil. Contoh nyata adalah program Bangga Buatan Indonesia yang menghubungkan UMKM dengan platform e-commerce besar. Langkah ini bisa diperkuat dengan membangun marketplace syariah yang mengedepankan prinsip halal dan etika bisnis. Selain itu, digitalisasi zakat dan wakaf dapat meningkatkan transparansi dan partisipasi masyarakat.

Dengan menggabungkan nilai-nilai Rasulullah dan inovasi modern, Indonesia dapat membangun sistem ekonomi yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan. Prinsip ini bukan hanya solusi moral, tetapi juga strategi praktis untuk mengurangi ketimpangan dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.


COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.