Momentum keteladanan
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momen penting untuk merenung dan menata ulang arah pembangunan, termasuk dalam bidang ekonomi. Rasulullah telah memberikan teladan tentang bagaimana membangun sistem ekonomi yang berkeadilan dan inklusif, yang tidak hanya menyejahterakan, tetapi juga memuliakan manusia.
Di tengah realitas dunia modern yang diwarnai oleh ketimpangan distribusi kekayaan, pengangguran, dan eksklusi sosial, nilai-nilai ekonomi Rasulullah menjadi sangat relevan untuk dijadikan pedoman.
Beberapa tantangan besar dapat dijawab melalui pendekatan ekonomi Islam. Masalah ketimpangan dapat diatasi dengan mengoptimalkan zakat, wakaf, dan infak sebagai instrumen redistribusi kekayaan yang sistematis dan berkelanjutan.
Eksklusi finansial yang masih dialami sebagian masyarakat dapat diminimalisir melalui penguatan lembaga keuangan syariah yang inklusif dan ramah terhadap pelaku usaha kecil.
Sementara krisis etika bisnis yang kerap mencoreng dunia usaha dapat diperbaiki dengan meneladani etika bisnis Rasulullah yang menekankan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial.
Kemudian, pemberdayaan UMKM dan ekonomi lokal harus menjadi prioritas, sebagaimana Rasulullah mendorong perdagangan berbasis komunitas untuk menciptakan kemandirian dan ketahanan ekonomi.
Sabda Rasulullah, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad), menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh lepas dari nilai moral.
Semangat Maulid Nabi menjadi cahaya yang menuntun Indonesia menuju ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat, sehingga kesejahteraan tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
*) Dr M Lucky Akbar adalah Kepala Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan Jambi, Kementerian Keuangan
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Maulid Nabi, meneladani spiritualitas ekonomi Rasulullah
