Meneladani spiritualitas ekonomi Rasulullah

id maulid nabi,rasulullah,teladan nabi,ekonomi inklusif,Nabi Muhammad SAW,konsep ekonomi Rasulullah Oleh Lucky Akbar *)

Meneladani spiritualitas ekonomi Rasulullah

Umat Islam berselawat nabi mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (4/9/2025). Kegiatan yang diisi dengan istigasah dan selawat tersebut dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.

Jakarta (ANTARA) - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengenang kelahiran seorang tokoh besar, nabi akhir zaman yang membawa perubahan pada kehidupan dan peradaban umat manusia, tetapi juga menjadi momentum untuk meneladani nilai-nilai luhur yang beliau ajarkan.

Salah satu aspek penting yang sering luput dari perhatian, terutama pada momen Maulid Nabi, adalah konsep ekonomi yang Rasulullah bangun berbasis keadilan, kejujuran, dan inklusivitas.

Dalam konteks dunia modern yang diwarnai oleh ketimpangan, eksploitasi, dan eksklusi ekonomi, momen Maulid Nabi mengajak kita meneladani Rasulullah menjadi relevan dan mendesak.

Di tengah arus globalisasi dan kapitalisme yang sering kali menempatkan keuntungan di atas kemanusiaan, kita menyaksikan bagaimana jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar.

Banyak masyarakat yang terpinggirkan dari sistem ekonomi karena tidak memiliki akses terhadap pendidikan, modal, atau teknologi. Eksploitasi tenaga kerja, monopoli pasar, dan ketidakadilan distribusi kekayaan menjadi wajah nyata dari sistem yang kehilangan nilai-nilai etis.

Dalam situasi seperti ini, keteladanan Rasulullah SAW menjadi cahaya penuntun. Ia tidak hanya mengajarkan spiritualitas, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang berkeadilan dan inklusif. Di pasar Madinah, Rasulullah menolak praktik monopoli dan intervensi harga yang merugikan rakyat kecil, serta mendorong perdagangan yang jujur, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama, bukan sekadar akumulasi kekayaan segelintir orang.

Rasulullah juga menekankan pentingnya distribusi kekayaan melalui zakat, yang bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga mekanisme sosial untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota masyarakat yang terabaikan. Dalam masyarakat yang ia bangun, perempuan diberi hak ekonomi, budak diberdayakan, dan kaum miskin dilibatkan dalam pembangunan.

Nilai-nilai ini sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman. Ketika ekonomi modern cenderung eksklusif dan tidak berpihak pada yang lemah, maka meneladani Rasulullah berarti membangun sistem yang merangkul semua, yang menghargai kerja keras, dan yang menempatkan keadilan sebagai fondasi utama.


COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.