Yogyakarta (ANTARA) - Seratusan ibu yang tergabung dalam komunitas Suara Ibu Indonesia menyuarakan pentingnya sumber bahan mentah Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan dari hasil impor tetapi dari petani lokal. pada Jumat (3/10) di Bundaran UGM, Yogyakarta.
Dalam aksi tersebut, mereka membawa rantang berisi bekal dari rumah sebagai simbol kedaulatan pangan keluarga. Mereka menuntut agar program MBG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan murah, tetapi juga memberdayakan petani lokal serta memperkuat ekonomi kerakyatan.
“Harapannya MBG ini akan memberikan keuntungan kepada petani lokal, kepada mata rantai ekonomi kerakyatan kira-kira itu di sistem pangan kita. Tapi kalau melihat situasinya sekarang, kok makanan yang dibagikan justru susu kotak, burger, chicken katsu, hingga daging olahan. Itu kan bukan produk dari petani kita,” ujar Kalis Mardiasih, pemantik diskusi.
Lasmi, dari ahli politik pangan juga menyoroti dominasi perusahaan multinasional dalam penyediaan pangan MBG. Mereka menilai kontrak penyediaan pangan justru melibatkan korporasi besar, bukan komunitas atau petani lokal.
“Gandum, misalnya, tidak ditanam di Indonesia. Seluruh bahan pokok itu impor, dari Ukraina, Australia, hingga Amerika. Jadi kalau MBG berbasis produk impor dan ultra processed foods, jelas ini bukan kedaulatan pangan. Ini sistem pangan yang sangat sentralistik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan aksi kenduri ini menjadi ruang silaturahmi antar-ibu dari berbagai komunitas. Dengan semangat kebersamaan, mereka mengajak seluruh pihak untuk melihat MBG bukan semata program distribusi makanan, melainkan sebagai kesempatan membangun sistem pangan yang lebih mandiri dan berkeadilan.
“Kalau MBG dijalankan dengan memberdayakan petani lokal, manfaatnya akan lebih luas anak-anak sehat, petani sejahtera, dan ekonomi kerakyatan semakin kuat,” Ujarnya.
Lebih jauh, komunitas ibu-ibu ini berharap MBG dapat menjadi jembatan antara kebutuhan gizi anak-anak dengan kesejahteraan petani. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan di sekolah saja, tetapi juga sampai sawah maupun ladang yang dikelola petani.

