
Wabup: Sepanjang Januari 2026 Sleman alami deflasi yang konsisten

Sleman (ANTARA) - Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyebutkan secara keseluruhan, Kabupaten Sleman mengalami tren penurunan harga sejumlah kebutuhan atau deflasi yang cukup konsisten sepanjang Januari 2026.
"Seluruh angka menunjukkan nilai negatif, yang mengindikasikan harga komoditas pangan/pokok terpantau lebih rendah dibandingkan periode dasar yang digunakan," kata Danang pada "High Level Meeting" (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Sleman, Jumat.
Kegiatan HLM TPID se-DIY ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tahun 2026.
Danang mengatakan komoditas penyumbang deflasi Indeks Perkembangan Harga (IPH) Januari 2026 didominasi oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.
Menurut dia, seiring meningkatnya permintaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, harga daging ayam ras dan daging sapi juga berpotensi mengalami kenaikan.
"Kondisi ini perlu diantisipasi melalui penguatan pengendalian pasokan, kelancaran distribusi antardaerah, serta stabilisasi harga melalui langkah-langkah konkret TPID," katanya.
Ia mengatakan berdasarkan neraca pangan menjelang Idul Fitri 2026, ketersediaan pangan strategis di Kabupaten Sleman secara umum berada dalam kondisi surplus. Komoditas utama seperti beras, cabai, gula pasir, daging ayam ras, dan telur ayam ras mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Pada tahun 2026, surplus pangan diperkirakan meningkat, terutama pada komoditas cabai dan protein hewani. Namun demikian, potensi tekanan harga tetap perlu diantisipasi akibat meningkatnya permintaan dan faktor distribusi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional," katanya.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan bahwa tantangan saat ini tidak sekadar untuk mempertahankan angka dalam koridor sasaran, melainkan menjaga ketenangan sosial dan kepastian ekonomi.
"Menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, pendekatan kita tidak boleh reaktif. Pendekatan itu harus antisipatif, presisi, dan terkoordinasi," katanya.
Gubernur DIY pada kesempatan itu sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim TPID dan seluruh pemangku kepentingan yang telah menjaga keseimbangan dinamika harga di DIY, sehingga berhasil meraih Juara 2 Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Jawa–Bali pada ajang bergengsi TPID Award 2025.
"Prestasi itu diharapkan sebagai daya dorong agar koordinasi yang rapi dan langkah yang terukur senantiasa berlanjut, terutama dalam menghadapi dinamika Ramadan dan Idul Fitri," katanya.
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
