Rahasia disiplin Sultan HB IX terungkap lewat seni tari

id sultan,hamengkubuwono,yogyakarta, jogjakarta, sejarah, seni, tari

Rahasia disiplin Sultan HB IX terungkap lewat seni tari

RM Kristiadi menyampaikan materi tentang sejarah Kota Yogyakarta melalui kesenian dalam acara Tirakatan HUT ke-269 Kota Yogyakarta di Pendapa Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/10/2025). ANTARA/Indra Kurniawan

Yogyakarta (ANTARA) - Sejarah bukan hanya dapat dibaca melalui buku atau relief peninggalan, namun juga melalui seni, yang menjadi bagian integral dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan. Inilah yang terungkap dalam acara tirakatan memperingati HUT ke-269 Kota Yogyakarta, Senin (6/10) yang menghadirkan paparan menarik tentang bagaimana Sultan Hamengkubuwono IX (HB IX) menggunakan seni tari untuk mendidik kedisiplinan.

Kristiadi, seorang sejarawan mengungkapkan bahwa Yogyakarta, selain dikenal sebagai Kota Pelajar, juga dikenal sebagai Kota Budaya. Hal ini menjadikan seni sebagai sarana yang tepat untuk menggali sejarah.

Dalam acara tersebut, Kristiadi menyampaikan sebuah fakta menarik tentang bagaimana Sultan HB IX, pada tahun 1987, membagikan pengalaman pribadinya mengenai metode pendidikan yang beliau terapkan pada anak-anaknya, yaitu melalui tari.

"Sultan HB IX menggunakan tari sebagai instrumen untuk membangun kedisiplinan. Beliau percaya bahwa lewat tari, seseorang bisa diajarkan tentang ketepatan, ketegasan, dan kesabaran," ungkap Kristiadi, mengutip rekaman suara asli Sultan HB IX yang diperoleh pada Desember 1987.

Dalam cerita tersebut, Sultan HB IX menceritakan pengalamannya melatih anak-anaknya untuk menari dengan penuh disiplin. Salah satu momen yang diungkap adalah ketika beliau meminta anaknya untuk menari di depan cermin, memperbaiki gerakan yang masih terlihat feminin, meskipun tarian tersebut ditampilkan oleh seorang laki-laki.

“Dengan kesabaran dan disiplin, akhirnya anak-anaknya dapat memahami kekurangannya, dan pelajaran itu menjadi bekal yang tak mudah dilupakan seumur hidup,” ujar Kristiadi menambahkan.

Kristiadi juga membuka lembaran sejarah unik lainnya, yaitu tentang Perang Kendang pada 1747, yang ternyata memiliki kaitan erat dengan penggunaan gendang sebagai sinyal dalam perubahan formasi pertempuran, bagaimana tanpa disadari, Belanda, yang hadir di medan perang, justru memberikan kontribusi penting dalam membantu finansial perang Mangkubumi melalui barang-barang yang tertinggal.

Selain itu, Kristiadi menyoroti peran perempuan dalam sejarah Yogyakarta, terutama Kanjeng Ratu Ageng, Permaisuri Hamengkubuwono I, yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ekonomi dan kemakmuran Yogyakarta pada masa itu.

"Ratu Ageng adalah seorang ekonom, petani, dan pemimpin yang luar biasa. Tanpa kepemimpinan beliau, Yogyakarta mungkin tidak akan seberhasil sekarang," kata Kristiadi.

Menariknya, dalam kesimpulannya, Kristiadi menekankan bahwa sejak dulu Yogyakarta telah memikirkan tentang kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial, atau yang kini dikenal dengan istilah GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).

"Jogja sudah sejak lama mengutamakan perjuangan untuk masyarakat yang inklusif dan berkeadilan," tuturnya.

Penyampaian materi yang penuh dengan nilai sejarah dan kebudayaan ini mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang memadati Pendapa Balai Kota Yogyakarta dalam acara Tirakatan HUT ke-269 Kota Yogyakarta.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.