Yogyakarta (ANTARA) - DHF Entertainment kembali luncurkan film autentik berbasis budaya Kalimantan yang resmi diputar perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) edisi ke-20 berjudul "Kuyank".
Film ini menjadi salah satu yang paling dinantikan karena merupakan prequel dari "Saranjana: Kota Gaib" yang sukses meraih 1,2 juta penonton di Indonesia.
Johansyah Jumberan, sutradara film Kuyank asal Kalimantan Selatan mengatakan film ini menggali lebih dalam legenda ilmu kuyang, salah satu urban legend yang terkenal dan melekat di masyarakat Kalimantan.
"Film ini tak hanya menyajikan teror, tetapi juga menghadirkan pendekatan budaya yang kuat melalui riset mendalam dan proses produksi yang sepenuhnya dilakukan di Kalimantan," katanya.
Kuyank sendiri merupakan bagian dari Saranjana Universe yang DHF Entertainment bangun, dan direncanakan kedepannya akan menjadi wadah untuk folklore atau urban legend dari Kalimantan.
Ia melanjutkan, untuk menciptakan atmosfer yang autentik, proses syuting Kuyank dilakukan di berbagai lokasi di Kalimantan khususnya di kampung air, serta menggunakan 50% Bahasa Banjar.
Dalam proses penggarapan Kuyank, DHF Entertainment berkolaborasi dengan LMN Studio untuk menggunakan CGI dan efek-efek gaib premium.
"Kita kolaborasi dengan LMN Studio karena mereka merupakan studio yang nomor satu, salah satu karya ikonik mereka yaitu Pengepungan di Bukit Duri, bahkan mereka juga meraih nominasi untuk MFI Piala Citra, dua tahun berturut-turut," katanya.
Penulis naskah Kuyank, Asaf Antariksa mengatakan Kuyank merupakan perpaduan antara urban legend Kalimantan dan budaya masyarakat sekitar.
"Cerita ini memang kami perkuat drama nya dibanding jumpscare seperti film horror lain nya, karena kami ingin menampilkan hubungan urban legend kuyang ini dengan budaya masyarakat secara kuat," katanya.
Asaf mengatakan bahwa Kuyank harus berbasis cerita rakyat agar sesuai folklore setempat.
"Kita sepakat bahwa kuyank ini harus berbasis cerita rakyat, meskipun ada elemen horrornya, tapi tidak dilebih-lebihkan, tidak dihiperbolakan, jadi memang ceritanya sesuai dengan folklore yang ada," katanya
