Yogyakarta (ANTARA) - Film dokumenter "Swaradwipa: Di Antara Bunyi dan Sunyi di Jagat Sumba" karya sutradara Titi Radjo Padmaja resmi diputar perdana di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2025 pada Sabtu (6/12) di Empire XXI Studio Premiere, Yogyakarta. Film ini mengangkat musik Jungga, musik tradisional Sumba, yang telah memikat hati banyak orang, dan menampilkan sisi kemanusiaan serta kehidupan masyarakat Sumba yang jarang tersorot.
Titi mengungkapkan bahwa riset awal film ini hanya berfokus pada musik Jungga. Namun, setelah tinggal bersama masyarakat Sumba, ia menemukan banyak hal menarik lainnya.
"Jungga ini sebagai jendela untuk membuka banyak kehidupan di Sumba yang mungkin banyak yang kita tidak tahu," ujar Titi dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film.
Film produksi Alunmantra ini menyoroti kehidupan para pemain Jungga, seperti Ata Ratu, Rambu Ester, Pura Tanya, Haing, dan Fransiskus Wora Hebi. Tidak hanya musik, film ini juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba secara komprehensif.
Proses produksi yang memakan waktu tujuh tahun bukan hanya karena syuting yang lama, tetapi juga dilema kreatif yang dihadapi oleh Titi. Ia bahkan membuang 50 persen footage yang telah diambil karena merasa tidak sesuai dengan visi yang diinginkan.
"Tujuh tahun itu overthinking. Footagenya 50 persen saya buang karena saya tidak suka," jelas Titi.
Awalnya, Titi bersama musisi Lie Indra Perkasa yang juga bertindak sebagai penata musik film ini, berencana membuat dokumenter tentang kolaborasi antara musisi modern dengan musik tradisional Sumba. Namun, setelah melihat hasil rekaman, Titi merasa seperti sedang membuat dokumenter perjalanan wisata dan akhirnya memilih untuk fokus pada kisah kemanusiaan dan kehidupan masyarakat Sumba.
"Saya dan Indra kesannya seperti sedang jalan-jalan ke Sumba. Akhirnya saya memutuskan untuk memotong 50 persen materi, saya dan Indra keluar dari frame. Saya lebih tertarik dengan human interest," katanya.
Salah satu keputusan kontroversial yang diambil Titi adalah menampilkan adegan tentang tradisi kuliner anjing di Sumba. Keputusan ini sempat membuatnya ragu selama bertahun-tahun, namun Titi tetap mempertahankannya.
"Di sini saya sebagai sutradara tidak pernah mendiskriminasi atau menyalahkan kebiasaan suatu daerah. Itu adalah budaya mereka," tegas Titi.
Menurutnya, film dokumenter harus menampilkan realitas yang ada agar masyarakat dapat memahami konteks budaya tanpa terburu-buru menghakimi. Titi juga melihat bahwa masyarakat Sumba mengonsumsi anjing bukan hanya karena budaya, tetapi juga karena keterbatasan ekonomi yang memaksa mereka untuk memanfaatkan apa yang tersedia.
Titi pertama kali jatuh cinta pada musik Jungga setelah melihat video Ata Ratu menyanyikan lagu dengan instrumen tradisional tersebut di YouTube. Sebagai seorang music scorer yang terlibat dalam film "Laskar Pelangi" dan "Sang Pemimpi", ia menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan musik yang tidak kalah indah dari musik Barat.
"Saya sibuk mencari ke luar negeri, padahal di sekitar saya di Indonesia ini banyak sekali musik yang bisa saya eksplorasi," ujar Titi.
Film yang mengambil lokasi di berbagai wilayah Sumba, terutama Sumba Timur dan Waingapu, telah diputar untuk Wakil Bupati Sumba, Jonathan Hani, yang memberikan respons sangat positif. "Dia bilang film ini seperti orang Sumba sekali. Dia senang dan ingin film ini ditonton masyarakat Sumba melalui layar tancap," cerita Titi.
Titi memilih JAFF sebagai titik awal perjalanan filmnya karena festival ini dikenal sebagai rumah bagi film dokumenter dan kisah budaya lokal, terutama dari Indonesia Timur.
"JAFF menjadi ruang yang kami rasa paling tepat untuk memulai perjalanan film ini. Senang sekali bisa membawa Swaradwipa ke JAFF, terasa seperti mengembalikan cerita ini ke tempat yang paling hangat menerima dan merayakannya," kata Titi.
