Logo Header Antaranews Jogja

Sekolah Rakyat, harapan baru pendidikan Indonesia inklusif

Sabtu, 17 Januari 2026 14:58 WIB
Image Print
Presiden Prabowo Subianto (kanan) menyalami salah satu murid Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2025), dalam acara peresmian 166 Sekolah Rakyat secara serentak di 131 kabupaten/kota, 34 provinsi Indonesia. ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet.


Baca juga: Sekolah Rakyat terapkan inovasi tes DNA talenta berbasis AI

Itu lah yang menjadi salah satu permasalahan kritikal kita. Dan Sekolah Rakyat kemudian dilahirkan untuk meminimalisir hal tersebut. Sekolah Rakyat tidak membentuk karakter kompetitif untuk memperebutkan nilai tertinggi. Para siswa yang sebagian besar berasal dari kaum marginal, diajak tumbuh menjadi SDM yang lebih baik. Mereka diajak untuk memahami potensi terbesar dalam hidup mereka. Pada pelaksanaannya, ada yang kemudian mengembangkan kemampuan menulis puisi, bermain teater, bernyanyi dan kemampuan keterampilan lain.

Salah satu aspek yang paling penting dalam pengelolaan kurikulum Sekolah Rakyat adalah penumbuhan Self Efficacy. Albert Bandura, seorang yang mengungkapkan social learning theory, menjelaskan bahwa keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Di sinilah Sekolah Rakyat memiliki keunggulan dibanding sekolah formal.

Sekolah formal menitikberatkan pada persaingan memperebutkan nilai tertinggi. Orientasinya adalah hasil. Sementara itu, di Sekolah Rakyat, mereka diharapkan untuk menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Mereka didorong untuk berani bermimpi tentang masa depan yang ingin mereka miliki. Tidak ada tuntutan meraih nilai tinggi, tidak ada tuntutan seragam sehingga peserta diberi ruang untuk mencoba, gagal, mengulang, dan perlahan merasakan keberhasilan kecil yang menumbuhkan rasa mampu. Lingkungan yang suportif dan dialogis membuat peserta merasa dihargai, didengar, dan diberdayakan, sehingga self-efficacy meningkat secara alami.

Coba kita bayangkan anak-anak jalanan di sekolah formal. Mereka kadang tidak punya uang untuk jajan seperti anak yang lain. Seragam mereka lusuh dan kumal, tidak seperti anak-anak lain yang pakaian seragamnya cerah. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana self-efficacy yang menurut Bandura menjadi kunci untuk kesuksesan di masa depan, bisa tumbuh pada diri anak-anak jalanan tersebut?

Baca juga: Pakar: Kurikulum Sekolah Rakyat idealnya berbasis keterampilan hidup

Di Sekolah Rakyat, tidak ada kewajiban untuk memakai pakaian seragam. Mereka bisa datang ke sekolah dengan pakaian sehari-hari mereka. Mereka tidak perlu minder atau berkecil hati karena baju mereka tidak bagus, karena teman-teman mereka juga berada dalam kondisi yang sama. Tidak perlu takut tidak punya tempat tinggal karena di sana sudah disediakan asrama. Soal pangan, jangan takut karena program MBG pasti menjamah Sekolah Rakyat.

Jikalau ada persaingan, itu terjadi antara siswa dan diri mereka sendiri. Proses belajar dipahami sebagai perjalanan unik setiap peserta, sehingga ukuran keberhasilan tidak dilihat dari siapa yang paling cepat, paling pintar, atau paling unggul, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu melampaui keterbatasan dirinya sendiri dari waktu ke waktu. Saya yakin, anak-anak Indonesia adalah anak-anak cerdas yang punya kemauan untuk maju.

Jangan lupa, pendidikan adalah investasi untuk masa depan. Gary Becker dan Theodore Schultz dalam Teori Modal Manusia, menjelaskan bahwa pendidikan sebagai bentuk investasi yang memberikan keuntungan jangka panjang bagi individu maupun negara. Ketika seseorang memperoleh pengetahuan dan kecakapan baru, ia tidak hanya meningkatkan kemampuan personal, tetapi juga memperbesar peluang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi di masa depan.

Baca juga: Mensos mengingatkan kalangan ekonomi mampu tak manfaatkan Sekolah Rakyat

Kita tidak pernah tahu jalan hidup seseorang. Maka dari itu, Sekolah Rakyat ingin membangkitkan potensi terbaik dari masing-masing peserta didiknya sehingga memiliki banyak pilihan untuk sukses di masa depan. Siapa yang tahu, dari Sekolah Rakyat lahir sastrawan baru, lahir seniman baru, lahir ahli-ahli berbakat lainnya..

Namun demikian, kita harus menyadari bahwa program Sekolah Rakyat ini masih berada dalam tahap perkembangan dan tentu tidak akan pernah sempurna—sebab tidak ada sistem pendidikan yang benar-benar sempurna. Selalu ada ruang untuk evaluasi, penyempurnaan, dan penyesuaian terhadap kebutuhan peserta yang terus berubah. Kritik tetap diperlukan, karena dari kritik itulah kita bisa melihat apa yang belum berfungsi, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus dipertahankan.

Kita dapat mengkritik kebijakan yang berjalan, tetapi kita tidak mungkin mengkritik kebijakan yang tidak pernah dicoba atau tidak pernah diwujudkan. Begitu, bukan?

Oleh karena itu, keberanian untuk menjalankan terobosan seperti Sekolah Rakyat merupakan langkah penting yang patut diapresiasi. Program ini akan terus berkembang bersama masyarakat, belajar dari pengalamannya sendiri, menyerap umpan balik, dan melahirkan inovasi-inovasi baru demi menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan relevan bagi semua anak Indonesia. Wajib dukung!

 

*) DR. Ramadhan Pohan, MIS, Pengajar S-2 Komunikasi Politik, Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara
















Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sekolah Rakyat, harapan baru pendidikan Indonesia inklusif

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026