
Sultan HB X: Idul Fitri kesempatan tepat introspeksi diri bagi anak bangsa

Bantul (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan Idul Fitri yang diperingati umat Muslim setelah menjalankan puasa Ramadhan sebagai kesempatan tepat untuk introspeksi diri bagi anak bangsa.
"Dengan menyadari betapa rumitnya tantangan yang kerap membelit bangsa ini, Idul Fitri adalah momentum tepat untuk introspeksi diri bagi segenap anak bangsa," katanya saat menyampaikan sambutan pada acara Syawalan Gubernur di Kabupaten Bantul, DIY, Jumat.
Ia mengemukakan bahwa tidak berlebihan jika Idul Fitri diharapkan bernilai inspiratif, karena menghadirkan ide-ide pembaharuan yang segar dalam bingkai pengabdian, sosial kemasyarakatan, dan kerukunan, sebagai pertanda kehidupan yang bermartabat.
Oleh karena itu, kata dia, kewajiban semua warga untuk "memilin benang-benang" spiritualitas agar menjadi penguat semangat kebangsaan, dan terajut sebagai perekat kemanusiaan.
"Kewajiban ini berarti, kita telah ikut menguatkan prinsip ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin," katanya.
Bagi pemerintah, kata dia, kesejatian moralitas telah terpancar dari ajaran Serat Piwulang Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwana I (Sinuwun Swargi), sebagai suluh budi yang menuntun arah laku pengabdian.
"Bahwasanya sesama dalam pengabdian, pada hakikatnya adalah saudara, yang dipersatukan oleh amanah, oleh tanggung jawab bersama, dan oleh ikhtiar yang dijalankan seiring sejalan," katanya.
Serat tersebut juga menegaskan, "Kang utama tansah ulah ing sih," bahwa keutamaan sejati pengabdian bertumbuh dari tanggung jawab, empati, dan keluhuran budi.
"Dan kita pun tidak boleh lengah pada untai nilai moral. Kepercayaan yang melekat pada jabatan, sesungguhnya merupakan titipan mulia, yang wajib dijaga dengan satya, dengan kesungguhan, dan dengan kejernihan nurani," katanya.
Ia mengajak masyarakat dana aparat pemerintah meneguhkan semangat pengabdian, kepedulian, dan solidaritas sosial, dalam bingkai "Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku".
"Dengan memaknai maaf sebagai laku Islami yang menyejukkan hati, menjernihkan batin, dan merajut kembali kerukunan, saya pun mengiringinya dengan ucap tulus 'Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin'," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
