Logo Header Antaranews Jogja

Kisah sunyi mengolah sampah jadi rupiah

Senin, 20 April 2026 06:30 WIB
Image Print
Warga mengumpulkan sampah anorganik di Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza)

Bagi sebagian orang, kewajiban tambahan seperti ini mungkin terasa membebani, namun tidak demikian bagi Adi Prima, salah satu anggota PPSU Kelurahan Cibubur.

Dia melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawabnya menjaga lingkungan, bukan sekadar pekerjaan tambahan.

Dalam waktu dua hingga tiga hari, Adi mampu mengumpulkan antara tiga hingga lima kilogram sampah. Baginya, aktivitas itu sudah menjadi rutinitas yang tidak lagi terasa berat.

Bahkan, dia mengaku semakin terbiasa memilah sampah dan lebih peka terhadap potensi limbah yang bisa dimanfaatkan.

Inisiatif ini juga tidak berhenti di lingkup internal PPSU. Kelurahan Cibubur menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah, memperluas jangkauan pengumpulan sampah, sekaligus menanamkan kesadaran sejak usia dini. Dari kolaborasi ini, volume tambahan sampah yang terkumpul bisa mencapai 500 hingga 750 kilogram.
 

Upaya serius
 

Tumpukan sampah yang terus menggunung di TPST Bantargebang bukan lagi sekadar persoalan teknis pengelolaan limbah, melainkan cermin dari pola konsumsi dan kebiasaan masyarakat perkotaan.

Setiap hari, ribuan ton sampah dari Jakarta berakhir di sana, membawa konsekuensi lingkungan. Di tengah tekanan kapasitas, Pemerintah Kota Jakarta Timur mulai menggeser pendekatan, dari sekadar membuang menjadi mengelola sejak dari sumbernya.

Langkah serius ini berangkat dari kesadaran sederhana, membuat sampah tak lagi muncul di tempat pembuangan akhir, melainkan dari rumah tangga, mulai dari dapur, kemasan belanja, hingga aktivitas harian.

Pemkot Jakarta Timur mendorong warga untuk memilah sampah sejak awal, memisahkan antara organik dan anorganik, sebelum limbah itu meninggalkan rumah.

Dorongan tersebut bukan sekadar imbauan. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin memperkuat upaya itu dengan sistem yang mulai dibangun secara bertahap.

Salah satu tulang punggungnya adalah kolaborasi dengan Pusat Daur Ulang Plastik (PDUP) Ciracas, yang berfungsi sebagai titik pengolahan sampah anorganik.

Lalu, melalui pembentukan satuan tugas bank sampah di setiap kelurahan, pemerintah mencoba memastikan bahwa alur pengelolaan berjalan rapi dari warga ke unit bank sampah, hingga ke pusat daur ulang.

Satgas ini tidak hanya bertugas mengoordinasikan pengiriman sampah, tetapi juga memantau dan melaporkan aktivitas secara daring, menciptakan sistem yang lebih terukur dan transparan.

Upaya ini melibatkan banyak pihak. Dari jajaran Suku Dinas Lingkungan Hidup, camat, lurah, hingga sektor swasta, semuanya dikumpulkan dalam satu meja koordinasi.

Baca juga: Menteri LH.sebut Bantargebang fenomena gunung es akibat gagal mengelola sampah

Pendekatan kolaboratif ini menjadi penting, mengingat persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ada rantai panjang yang harus terhubung untuk menentukan keberhasilan sistem.

Perubahan mulai terlihat di lima kecamatan, yakni Cipayung, Ciracas, Kramat Jati, Pasar Rebo, dan Makasar. Wilayah-wilayah ini, kini terhubung dengan sistem penampungan terpusat di Bank Sampah Induk Ciracas.

Skema ini menjadi semacam percontohan bagaimana pengelolaan sampah bisa ditarik lebih dekat ke sumbernya, tanpa sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan akhir.

Pada akhirnya, upaya Jakarta Timur ini bukan hanya soal mengurangi volume sampah, tetapi juga membangun kebiasaan baru.

Berdasarkan data suplai sampah nonorganik dalam satu bulan terakhir, Kecamatan Matraman menempati posisi teratas dengan jumlah mencapai 3.349 kilogram.

Posisi berikutnya Kecamatan Jatinegara dengan 2.784 kilogram sampah, disusul Cipayung 2.096 kilogram, dan Cakung 1.315 kilogram.

Kemudian, untuk Kecamatan Ciracas berjumlah 771 kilogram, Kramat Jati 562 kilogram, Pulo Gadung 489 kilogram, Duren Sawit 385 kilogram, Pasar Rebo 346 kilogram, serta Makasar 201 kilogram.

Tidak hanya dari sektor rumah tangga, program pilah sampah juga diperluas ke lingkungan tempat ibadah. Tercatat sebanyak 83 masjid, 21 musala, satu pondok pesantren, serta 43 bank sampah turut berpartisipasi dalam upaya pengurangan volume sampah.

 






 


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kisah sunyi mengolah sampah jadi rupiah


Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026