Logo Header Antaranews Jogja

Dari UNU Yogyakarta ke PT Nestle Indonesia, Kirmanto menjaga harapan keluarga

Sabtu, 9 Mei 2026 00:14 WIB
Image Print
Kirmanto, alumnus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, yang bekerja di perusahaan multinasional. (ANTARA/HO-UNU Yogyakarta)

Yogyakarta (ANTARA) - Berkuliah di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta membuka kesempatan bagi Kirmanto, anak dari keluarga petani di Pemalang, Jawa Tengah, untuk menjadi profesional di perusahaan multinasional. Satu-satunya sarjana dari 8 bersaudara, ia menjadi harapan untuk mengangkat taraf hidup keluarga.

Kirmanto masih ingat betul kegembiraan yang dirasakan saat diwisuda dengan IPK cumlaude 3,83 sebagai lulusan Prodi Teknologi Hasil Pertanian (THP) UNU Yogyakarta pada Desember 2024. Kebahagiaan semakin membuncah tatkala hanya berselang dua bulan kemudian, tepatnya Februari 2025, ia diterima bekerja di perusahaan ternama.

Tak tanggung-tanggung, Kirmanto lolos seleksi di sebuah industri pangan berskala global, PT Nestle Indonesia. Ia ditempatkan di Bandaraya Factory di Batang, Jawa Tengah, sebagai fresh milk analyst yang memeriksa kualitas dan kadar nutrisi pada produk susu.

"Saya senang karena ini hasil perjuangan saya selama ini. Tapi yang lebih senang lagi adalah orang tua yang sudah sepuh (tua). Saya satu-satunya sarjana dari 8 bersaudara dan sekarang bekerja di Nestlé yang lokasinya dekat dengan rumah orang tua. Jadi kalau libur saya bisa pulang," tutur Kirmanto, Jumat (8/5).

Anak ke-7 dari 8 bersaudara kelahiran Pemalang, 20 Juni 2000 ini menghabiskan masa kecilnya di Desa Belik, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kedua orang tuanya adalah petani tamatan SD. Seluruh saudaranya tak ada yang masuk perguruan tinggi. Namun, ia punya mimpi besar untuk menjadi seorang Menteri Pertanian atau minimal pengusaha pertanian sukses.

Demi mengejar mimpi itu, selepas lulus dari SMAN 1 Belik, Kirmanto mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SBMPTN) yang tesnya dipusatkan di Purwokerto.

Menurutnya, kuliah di PTN lebih terjangkau dan tak membebani perekonomian keluarga. Namun jauh-jauh berkendara dari Pemalang ke Purwokerto, ia harus menelan pil pahit: hasil SBMPTN kemudian menunjukkan ia gagal masuk PTN.

Tak patah arang, Kirmanto harus menunggu satu tahun untuk mengikut seleksi PTN lagi. Kali ini ia menyiapkan diri lebih baik. Namun pada awal 2020, pandemi COVID-19 menyerang. Mobilitas ke luar wilayah dibatasi. Lagi-lagi rencananya kuliah di kampus negeri buyar.

"Waktu itu Bapak melarang saya pergi-pergi karena masih COVUD-19. Jadi saya tidak bisa ikut seleksi PTN," katanya.

Kirmanto menemukan titik terang saat mendengar kabar dari seorang teman: UNU Yogyakarta membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dengan beasiswa 100 persen. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Kirmanto percaya beasiswa itu menjadi peluang untuk berkuliah tanpa terkendala biaya. Apalagi seluruh pendaftaran dapat dilakukan secara daring.

"Saya mendaftar, melengkapi semua persyaratan, dan mendapat beasiswa full 100 persen selama kuliah dari UNU Yogyakarta dengan skema Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, termasuk uang saku Rp700 ribu per bulan," paparnya.

Meski memperoleh beasiswa, Kirmanto berupaya tetap hidup mandiri. Ia bergabung sebagai relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta. Tugasnya, menerima berbagai laporan kejadian kecelakaan hingga bencana di posko PMI. "Kadang kalau kondisinya benar-benar genting, saya juga harus ke lapangan," kata dia yang menerima honor dari kegiatan part time ini.

Di UNU Yogyakarta, Kirmanto mantap memilih Prodi THP Fakultas Industri Halal. Karena masih di tengah situasi pandemi, kuliah berlangsung daring. Ia baru hadir langsung di kampus pada semester 3 dan 4 untuk melaksanakan praktikum. Kuliah dapat dilalui dengan mulus dalam 8 semester.

Menurutnya, UNU Yogyakarta memberi bekal penting untuk masuk ke dunia profesional. Bukan hanya secara keilmuan, melainkan juga berupa keterampilan guna berkompetisi di dunia kerja. Hal ini terbukti setelah ia lulus dan melamar ke sejumlah perusahaan.

"Sebelum wisuda, kami didampingi oleh Direktorat Employability untuk coaching seperti membuat CV, menghadapi wawancara kerja, dan menyiapkan portofolio di media sosial. Sewaktu wawancara dengan user, saya mampu menjelaskan analisis susu seperti yang pernah saya lakukan di kuliah mikrobiologi di UNU Yogyakarta. Semua ini membantu saya menembus seleksi di PT Nestlé Indonesia," paparnya.

Dari menyebar lamaran di sejumlah perusahaan ternama, Kirmanto diterima di tiga korporat ternama. PT Nestle Indonesia menjadi pilihan karena perusahaan dengan fasilitas pengolahan pangan serba modern ini telah menjalin kemitraan dengan UNU Yogyakarta.

Kirmanto menyatakan, selama bekerja di PT Nestle Indonesia, ia semaksimal mungkin menerapkan ilmu dan skill yang diperoleh di bangku kuliah, serta terus beradaptasi dengan dunia industri yang terus berkembang.

Selain itu, saat ini ia ingin selalu dekat orang tuanya. Setiap hari libur, dari tempat kerjanya di Batang Kirmanto selalu menyempatkan pulang ke rumah orang tuanya di Pemalang.

"Sebab sekarang bapak ibu sudah berusia 70-an tahun dan tidak bekerja. Jadi hasil dari bekerja ini saya tabung dan saya transfer untuk keluarga. Harapannya ke depan bisa memberangkatkan orang tua umrah," kata Kirmanto dengan suara bergetar.

Kapasitas profesional Kirmanto diakui oleh Norman Tri Handono, Factory Manager Nestle Bandaraya Factory. Menurutnya, mahasiswa UNU Yogyakarta memiliki pemahaman dasar yang baik terkait keamanan pangan, teknologi pemrosesan, dan standar kualitas industri pangan.

"Mereka juga mampu bekerja dalam tim, memahami efisiensi dan kualitas produksi, memiliki karakter disiplin, penuh inisiatif, serta mampu untuk terus belajar dan punya kemauan menyerap nilai-nilai kerja di PT Nestle Indonesia. Dengan karakter santun dan mencerminkan nilai keislaman, kami percaya lulusan UNU Yogyakarta akan dicari oleh banyak industri," ujar Norman.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pendanaan Kreatif UNU Yogyakarta Ian Agisti Dewi Rani mengatakan mahasiswa UNU Yogyakarta memang disiapkan untuk siap terjun ke dunia profesional sejak masuk di semester awal.

"Fakultas dan prodi di UNU Yogyakarta mungkin sama namanya dengan fakultas dan prodi di kampus lain, tetapi pendekatan kami berbeda. Diferensiasi kami jelas. Sejak semester satu, mahasiswa UNU Yogyakarta sudah dipersiapkan menjadi profesional, bahkan sejak awal sudah diarahkan punya pengalaman kerja," tuturnya.

Selain berkuliah, mahasiswa juga dibekali berbagai pelatihan untuk meningkatkan soft skill. UNU Yogyakarta mengembangkan Direktorat Employability dan program Student Journey untuk mendampingi mahasiswa memetakan minat, bakat, dan potensi karirnya di masa depan serta menghubungkannya dengan dunia industri untuk memperoleh kesempatan magang.

"Jadi ketika mereka lulus mahasiswa UNU Yogyakarta bukan sekadar lulus dan mampu menyelesaikan tugas-tugas akademik, tetapi juga mampu melaksanakan tugas-tugas profesionalnya," tutur Ian.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026