Logo Header Antaranews Jogja

BMKG tegaskan bediding bukan fenomena cuaca ekstrem

Sabtu, 6 Juni 2026 15:51 WIB
Image Print
Wisatawan mengunjungi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (27/7/2025). BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat fenomena bediding atau suhu dingin terjadi akibat aktifnya angin monsun timuran yang kering dan minim awan seiring musim kemarau 2025 yang mundur dari normalnya dan diprediksi berlangsung hingga September dengan suhu terendah umumnya terjadi pada bulan Agustus. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluruskan narasi yang berkembang di media sosial dengan menegaskan bahwa fenomena bediding atau penurunan suhu udara pada malam hingga pagi hari bukan merupakan kejadian cuaca ekstrem.

"Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Jakarta, Sabtu.

Dia menjelaskan rasa dingin yang menguat pada malam hingga pagi hari itu terjadi karena radiasi balik dari bumi dapat langsung dilepaskan ke atmosfer akibat tidak adanya awan. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh rendahnya kelembapan udara serta meningkatnya pengaruh aliran massa udara kering dari Australia.

Ahli bidang meteorologi BMKG ini menambahkan bahwa karakteristik suhu dingin musiman ini biasanya mulai terasa pada Juni dan dapat meningkat pada Juli hingga Agustus, khususnya ketika cuaca malam hari cerah dan angin timuran atau Monsun Australia semakin menguat.

BMKG juga menegaskan bahwa fenomena bediding tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia, melainkan hanya di wilayah yang kondisi langitnya cerah, kelembapan udara rendah, dan curah hujannya mulai berkurang.

Daerah yang biasanya lebih awal dan lebih jelas merasakan kondisi ini didominasi oleh wilayah Indonesia bagian selatan.

Adapun wilayah tersebut meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, wilayah selatan Jawa, kawasan dataran tinggi di Pulau Jawa, serta sebagian Sumatera bagian selatan seperti Sumatera Selatan dan Lampung.

Untuk itu, dia menyarankan ada baiknya masyarakat untuk memakai pakaian hangat dan memperbanyak air putih berikut agar lebih nyaman berkegiatan jika daerahnya mengalami kondisi demikian, lebih dingin ketimbang umumnya.

Fenomena ini sebelumnya ramai diperbincangkan oleh warga internet (netizen) melalui sejumlah kanal media sosial, salah satunya akun Instagram @4climate, yang menyebutkan suhu dingin mulai melanda sejumlah wilayah selatan Indonesia. Bahkan wilayah Batu, Malang, Jawa Timur disebut bisa bersuhu 13-16 derajat Celcius pada pukul 03.00 - 06.00.

Meskipun definisi bediding dalam unggahan tersebut secara umum sejalan dengan penjelasan meteorologi, BMKG memandang perlu memberikan edukasi agar publik dapat membedakan antara variasi iklim musiman yang normal dengan fenomena cuaca ekstrem sebagaimana respons publik dalam kanal komentar unggahan akun-akun media sosial.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BMKG: Bediding bukan fenomena cuaca ekstrem



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026