Yogyakarta (ANTARA) - Cuaca ekstrem di musim kemarau kembali membawa dampak serius bagi kesehatan saluran pernapasan. Fenomena bediding, yakni turunnya suhu secara drastis pada malam hingga pagi hari, telah melanda berbagai wilayah di Indonesia, terutama daerah selatan dengan dataran tinggi dan vegetasi minim. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu di beberapa titik bahkan menyentuh 14 derajat Celsius.
Kondisi ini mendorong lonjakan kasus batuk dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah. Minimnya kelembapan udara saat bediding juga memperbesar potensi iritasi pada saluran napas, yang sering kali diawali dengan gejala batuk kering, berdahak, hingga radang tenggorokan.
Sebagai respons terhadap meningkatnya risiko kesehatan tersebut, Komix Herbal meluncurkan kampanye kreatif bertajuk POTEK Dance Fest. Bukan sekadar promosi produk pereda batuk herbal, kampanye ini menargetkan generasi muda untuk menjaga kebugaran fisik secara menyenangkan melalui aktivitas dance berdurasi 15 menit setiap hari.
“Lewat Komix Herbal POTEK Dance Fest, kami mengajak anak muda untuk hidup aktif dan sehat dengan cara yang fun. Setelah Medan, semifinal juga akan diadakan di Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Tangerang sebelum para pemenang bertolak ke Jakarta untuk bertanding di babak final. Terus ikuti rangkaiannya sampai menemukan pemenang akhir yang akan berangkat ke Korea Selatan,” kata Andry Mahyudi, LOB 2 and PR Group Manager PT. Bintang Toedjoe.
Tahap semifinal di Medan dan Yogyakarta baru saja digelar dengan antusiasme tinggi. MIC Official (Medan) dan WAACKANIZM (Yogyakarta) berhasil keluar sebagai pemenang dan akan mewakili kota mereka di final Jakarta.
Festival ini bukan sekadar soal hadiah perjalanan ke Korea Selatan atau kelas eksklusif bersama dancer K-Pop DEUKIE dari Kwon Twins, melainkan bentuk edukasi kesehatan berbasis komunitas yang menyenangkan. Komix Herbal ingin mengubah pola pikir masyarakat, terutama generasi Z, untuk lebih proaktif menjaga daya tahan tubuh sejak dini, terutama di tengah musim pancaroba yang penuh tantangan.
Mereka yang tidak tertarik kompetisi pun tetap bisa ikut gerakan dance 15 menit yang dikampanyekan sebagai bentuk aktivitas ringan untuk menjaga sistem imun dan mencegah gejala awal batuk.
Di tengah cuaca yang tak menentu, kampanye ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak harus rumit. Dengan satu lagu dan satu gerakan dance, generasi muda bisa menjadi pelopor gaya hidup aktif sekaligus melindungi diri dari risiko penyakit pernapasan.
