Polair Polda DIY kesulitan patroli perairan selatan
Minggu, 7 Juni 2015 8:09 WIB
Ilustrasi pantai seloatan (Foto ANTARA/Mamiek)
Gunung Kidul (Antara Jogja) - Direktorat Kepolisian Perairan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kesulitan patroli di perairan laut selatan karena gelombang tinggi.
"Gelombang laut selatan di DIY itu sangat besar sehingga menyulitkan petugas saat patroli," kata Wadir Polair Polda DIY AKBP Andreas Heri Susidarto di Gunung Kidul, Minggu.
Menurut dia, gelombang laut yang tinggi tersebut juga menyulitkan nelayan saat menangkap ikan.
Polair yang ada di sepanjang pantai selatan, kata AKBP Andreas Heri Susidarto, tidak bisa melakukan patroli setiap saat atau sesuai dengan kebutuhan.
"Meski patroli pengamanan tidak intensif, kondisi perairan selatan sangat aman. Sejauh ini, tidak ada kasus pencurian ikan. Meski demikian, petugas tetap mewaspadai kasus penyelundupan manusia," katanya.
Heri mengatakan bahwa sepanjang pantai selatan di DIY ada enam pos pengaman, yakni Sadeng di Kabupaten Gunung Kidul; Pos Parangtritis, Samas, Depok, dan Kulwaru di Kabupaten Bantul; Pos Congot di Kabupaten Kulon Progo.
"Berdasarkan perhitungan kebutuhan, jumlah pos polair di pantai selatan DIY masih kurang. Misalnya, di Gunung Kidul baru satu pos, idealnya membutuhkan tiga sampai empat pos pengamanan," katanya.
Sebelumnya, Kasat Polair Gunung Kidul AKP Iriyanto mengatakan bahwa dalam melakukan pengawasan wilayah selatan, pihaknya menggunakan dua kapal patroli.
"Kami ada dua kapal patroli. Namun, memang ada kendala tidak bisa sampai tengah," katanya.
Ia mengatakan bahwa patroli laut memiliki tingkat kesulitan dibandingkan dengan darat karena patroli laut diperlukan persiapan khusus.
"Untuk patroli laut diperlukan kesiapan yang matang, seperti kondisi laut dan kapal itu sendiri," kata Iriyanto.
Iriyanto menyebutkan ada tiga faktor yang membuat pengawasan masih terbatas, yakni standarisasi kapal patroli, kapasitas bahan bakar, dan kebutuhan perlengkapan teknologi kekinian.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihaknya melakukan upaya di antaranya memanfaatkan informasi nelayan.
"Untuk kapal memang belum maksimal, kapsitas bensin 750 liter dan kami mengisi maksimal 600 liter. Dengan keterbatasan tersebut, kami tidak bisa berlayar jauh," katanya.
Patroli yang selama ini dilakukan, kata dia, mencapai 12 mil melebihi kewenangan, seharusnya 4 mil.
"Untuk pengamanan, kami berani lebih jauh," katanya.
(KR-STR)
"Gelombang laut selatan di DIY itu sangat besar sehingga menyulitkan petugas saat patroli," kata Wadir Polair Polda DIY AKBP Andreas Heri Susidarto di Gunung Kidul, Minggu.
Menurut dia, gelombang laut yang tinggi tersebut juga menyulitkan nelayan saat menangkap ikan.
Polair yang ada di sepanjang pantai selatan, kata AKBP Andreas Heri Susidarto, tidak bisa melakukan patroli setiap saat atau sesuai dengan kebutuhan.
"Meski patroli pengamanan tidak intensif, kondisi perairan selatan sangat aman. Sejauh ini, tidak ada kasus pencurian ikan. Meski demikian, petugas tetap mewaspadai kasus penyelundupan manusia," katanya.
Heri mengatakan bahwa sepanjang pantai selatan di DIY ada enam pos pengaman, yakni Sadeng di Kabupaten Gunung Kidul; Pos Parangtritis, Samas, Depok, dan Kulwaru di Kabupaten Bantul; Pos Congot di Kabupaten Kulon Progo.
"Berdasarkan perhitungan kebutuhan, jumlah pos polair di pantai selatan DIY masih kurang. Misalnya, di Gunung Kidul baru satu pos, idealnya membutuhkan tiga sampai empat pos pengamanan," katanya.
Sebelumnya, Kasat Polair Gunung Kidul AKP Iriyanto mengatakan bahwa dalam melakukan pengawasan wilayah selatan, pihaknya menggunakan dua kapal patroli.
"Kami ada dua kapal patroli. Namun, memang ada kendala tidak bisa sampai tengah," katanya.
Ia mengatakan bahwa patroli laut memiliki tingkat kesulitan dibandingkan dengan darat karena patroli laut diperlukan persiapan khusus.
"Untuk patroli laut diperlukan kesiapan yang matang, seperti kondisi laut dan kapal itu sendiri," kata Iriyanto.
Iriyanto menyebutkan ada tiga faktor yang membuat pengawasan masih terbatas, yakni standarisasi kapal patroli, kapasitas bahan bakar, dan kebutuhan perlengkapan teknologi kekinian.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihaknya melakukan upaya di antaranya memanfaatkan informasi nelayan.
"Untuk kapal memang belum maksimal, kapsitas bensin 750 liter dan kami mengisi maksimal 600 liter. Dengan keterbatasan tersebut, kami tidak bisa berlayar jauh," katanya.
Patroli yang selama ini dilakukan, kata dia, mencapai 12 mil melebihi kewenangan, seharusnya 4 mil.
"Untuk pengamanan, kami berani lebih jauh," katanya.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor : Hery Sidik
Copyright © ANTARA 2026