Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menggelar Diktara Fest 2025 atau Pendidikan Kesetaraan Festival pada Selasa, sebagai ajang bagi satuan pendidikan non-formal untuk menampilkan inovasi dan perannya dalam memperkuat Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan.
Kegiatan yang mengusung tema "Ngerti, Ngarasa, Nglakoni Pendidikan Nonformal Membumi di Jogja" ini dibuka Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan di Yogyakarta.
Wawan Harmawan mengapresiasi inisiatif Disdikpora dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Kota Yogyakarta dalam memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat di luar sistem pendidikan sekolah.
"Yogyakarta sudah dikenal sebagai Kota Pendidikan, namun pendidikan nonformal kini perlu semakin diangkat. Masih banyak masyarakat yang belum memiliki ijazah setara SMA, padalah persyaratan itu kini penting di dunia kerja," katanya.
Ia berharap program pendidikan kesetaraan, seperti Paket A, B, dan C, bisa terus diperkuat agar semakin banyak warga yang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan.
Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori mengatakan pendidikan nonformal menjadi salah satu pendukung utama capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Yogyakarta.
"Rata-rata lama sekolah di Kota Yogyakarta sudah mencapai 12,12 tahun dan harapan lama sekolah mencapai 17,62 tahun, tertinggi di tingkat nasional. Ini tidak lepas dari kontribusi PKBM yang memastikan masyarakat bisa terus belajar tanpa batas usia," katanya.
Kegiatan yang diikuti sekitar 240 peserta dari berbagai PKBM yang menampilkan beragam kegiatan, mulai dari ekspo karya pendidikan kesetaraan, temu wicara interaktif, hingga penampilan seni dari warga belajar PKBM.
Dalam sesi temu wicara, Pemerhati Pendidikan Non-formal Susianto menyoroti pentingnya keberadaan pendidikan non-formal yang dapat memberi akses kepada anak-anak dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda-beda.
"Tidak semua anak bisa terfasilitasi di pendidikan formal. Di sinilah peran pendidikan non-formal untuk memastikan setiap anak tetap mendapatkan haknya atas pendidikan," katanya.
Menurut dia, pendidikan non-formal kini semakin dibutuhkan karena dunia kerja dan teknologi yang semakin berkembang lebih cepat daripada adaptasi kurikulum formal.
Sedangkan narasumber lain Psikolog Resi Gusti Nur Ega menekankan bahwa pendidikan non-formal memiliki fleksibilitas dalam menciptakan pembelajaran yang personal dan inklusif.
"Melalui pendekatan yang lebih terbuka, pendidikan nonformal memberi ruang bagi peserta didik untuk menyesuaikan proses belajar dengan kondisi sosial, emosional, dan kemampuan masing-masing," katanya.
Diktara Fest 2025 ditutup dengan berbagai penampilan dari warga PKBM se-Kota Yogyakarta yang menampilkan seni dan kreativitas hasil pembelajaran nonformal.