Yogyakarta (ANTARA) - Pameran bertajuk “Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Penanda Sejarahnya” resmi digelar pada Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026 di Lobi Timur Stasiun Yogyakarta yang dibuka untuk masyarakat umum. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internasional dan nasional dalam upaya pelestarian budaya, sekaligus menghadirkan ruang edukasi bagi masyarakat luas.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara TU Wien (Vienna University of Technology) Austria dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI), serta PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 6 Yogyakarta, bersama UPT Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) Dinas Kebudayaan DIY dan UGM-UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation & Management. Kolaborasi ini memperkuat komitmen lintas institusi dalam menjaga dan mengangkat nilai historis Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang sarat makna budaya dan sejarah.

Sebanyak 30 mahasiswa terlibat aktif dalam pameran ini, yang terdiri dari:
    •    10 mahasiswa S1 Prodi Konservasi Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta,
    •    10 mahasiswa S1 Prodi Bahasa & Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM,
    •    10 mahasiswa S2 Master Arsitektur, Fakultas Teknik UGM.

Pameran ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) yang jatuh pada 18 April. Momentum ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian pusaka budaya, sekaligus mengajak publik memahami nilai-nilai sejarah melalui pendekatan yang lebih inklusif dan edukatif.

Pameran ini turut dihadiri oleh EVP Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo dan jajaran manajemen Daop 6, yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Hasto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sinergi antara institusi pendidikan dan BUMN dalam menghadirkan ruang pelestarian budaya yang inovatif dan edukatif bagi masyarakat. 

“Kolaborasi ini menjadi sinyal positif dan langkah besar dalam upaya menanamkan pemahaman dan cinta akan sejarah, budaya dan nilai kearifan lokal kepada generasi muda kita. Berbagai keunikan yang sarat akan makna dan nilai budaya yang dimiliki Yogyakarta, salah satunya Sumbu Filosofi ini haruslah semakin dikenal dan dicintai generasi muda, dan ini adalah tugas kita bersama,” ujar Hasto.

Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri merupakan warisan budaya yang dirancang oleh Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755. Kawasan ini mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang terwujud dalam tata ruang, bangunan, tradisi, hingga elemen alam yang tersusun sepanjang garis imajiner dari selatan ke utara, dan Stasiun Yogyakarta juga terletak di dalamnya.

EVP KAI Daop 6 Yogyakarta, Bambang Respationo, menyampaikan bahwa kehadiran pameran ini merupakan bagian dari komitmen KAI dalam mendukung pengembangan ruang publik berbasis budaya.
“Stasiun tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, namun juga sebagai ruang interaksi sosial dan budaya. Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat dan pelanggan kereta api untuk lebih mengenal nilai sejarah dan filosofi Yogyakarta. KAI Daop 6 akan terus mendukung kegiatan edukatif dan kultural yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ungkap Feni.

Bambang menambahkan, Stasiun Yogyakarta merupakan Stasiun Integrasi Antarmoda sekaligus Public Space Bersejarah sehingga KAI Daop 6 Yogyakarta terbuka untuk berbagai kolaborasi Non komersial activities terutama yang mengusung edukasi, sosialisasi, pelestarian sejarah, budaya, dan kegiatan komunitas positif yang mendidik dan bermanfaat.

Manajer Humas Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih mengatakan, KAI Daop 6 Yogyakarta mengajak masyarakat untuk dapat menikmati pameran edukasi budaya di Stasiun Yogyakarta mulai hari ini.
“Mari bersama kita nikmati edukasi budaya lewat pameran Sumbu Filosofis Yogyakarta ini, diharapkan masyarakat tidak hanya dapat menikmati keindahan Yogyakarta tapi juga paham makna dibalik sakralnya sumbu filosofis Yogyakarta,” ujar Feni.

KAI Daop 6 berharap kegiatan ini dapat menjadi daya tarik baru bagi warga dan wisatawan, sekaligus memperkuat citra Stasiun Yogyakarta sebagai salah satu tempat kegiatan publik yang inspiratif dan ramah bagi semua kalangan dan bermanfaat positif dalam mendukung perkembangan edukasi lewat seni dan kearifan lokal.