Yogyakarta (ANTARA) - Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) 2026 kembali digelar pada 8 –10 Mei 2026 di Langgeng Art Space dengan menghadirkan 43 exhibitor dari berbagai daerah dan negara.
Director Fair Yogyakarta Art Book Fair Syafiatudina
mengatakan exhibitor berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, hingga mancanegara seperti Vietnam, China, dan Malaysia.
"Fair zone menjadi tempat para maker atau pembuat terbitan bertemu langsung dengan publik untuk membicarakan karya mereka," kata Syafiatudina di Yogyakarta, Kamis.
Ia menjelaskan Yogyakarta Art Book Fair terus berkembang sejak pertama kali digelar pada 2023 di Jogja National Museum.
Pada tahun pertama acara tersebut hanya menghadirkan 10 meja exhibitor dengan sekitar 1.000 pengunjung.
Tahun berikutnya, jumlah exhibitor meningkat menjadi 30 meja dan mampu menarik hingga 2.000 pengunjung meski pengunjung dikenakan tiket masuk.
"Kami sempat khawatir apakah ada orang yang mau membeli tiket hanya untuk masuk pameran buku. Namun ternyata responsnya di luar ekspektasi," katanya.
Menurut dia, Yogyakarta Art Book Fair merupakan festival berbasis komunitas yang dijalankan secara kolektif dengan dukungan berbagai pihak, termasuk produsen kertas dan percetakan dalam bentuk dukungan produksi.
"Tahun ini skalanya lebih besar dan lokasinya berpindah ke selatan, yaitu di Langgeng Art Space. Sebelumnya kami di tengah kota, ke depan kami ingin mencoba berpindah-pindah lokasi agar menjangkau lebih banyak orang," katanya.
Adapun tema yang diangkat tahun ini adalah "Bound", tema tersebut merujuk pada proses penjilidan buku sekaligus makna ikatan antarkomunitas.
"Bound itu artinya jilid, tetapi juga ikatan. Apa yang mengikat kita melalui penerbitan dan bagaimana komunitas bisa terbentuk dari orang-orang yang sebelumnya terpisah," ujar Syafiatudina.
Area festival dibagi ke dalam beberapa zona, di antaranya fair zone sebagai lokasi transaksi jual beli terbitan.
Ground floor menjadi ruang diskusi, community partner, serta open table bagi penerbit yang ingin menitipkan karya tanpa menyewa meja.
Sementara itu, area basement difungsikan sebagai common room untuk menampilkan berbagai proyek kreatif komunitas kepada publik.
Pengunjung dapat mengakses seluruh area festival hanya dengan membeli daily pass seharga Rp35 ribu, tiket tersebut juga mencakup akses mengikuti sejumlah aktivitas dan workshop tertentu.
Syafiatudina berharap festival tersebut dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat untuk mengenal serta memproduksi terbitan artistik.
"Kami berharap semakin banyak orang datang karena keberlanjutan festival ini mayoritas bergantung pada penjualan tiket," katanya.
Salah satu exhibitor dari Cut and Print Studio, Mine mengaku antusias dengan tingginya minat pengunjung terhadap karya yang dipamerkan.
"Sangat menarik karena banyak teman-teman yang ingin mengetahui lebih banyak soal artwork kami. Menyenangkan juga karena banyak yang ingin belajar langsung ke studio kami," ujar Mine.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung dan berkembang lebih besar pada masa mendatang.