Status Gunung Merapi normal

id gunung merapi, korban merapi, yogyakarta

Status Gunung Merapi normal

Ilustrasi Gunung Merapi berada di wilayah Boyolali, Jateng. (ANTARA/Paramayuda)

Yogyakarta (ANTARA News) - Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang cukup signifikan dalam satu pekan terakhir belum akan diikuti dengan peningkatan status di salah satu gunung api aktif di Indonesia tersebut.

"Sampai saat ini, statusnya masih tetap normal. Memang, dalam satu pekan terakhir ini ada fluktuasi kegempaan yang lebih bervariasi," kata Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Sri Sumarti di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, fluktuasi kegempaan yang lebih bervariasi tersebut masih tergolong normal mengingat gunung yang berada di perbatasan Provinsi DIY dan Jawa Tengah tersebut adalah gunung api yang aktif.

Ia mengatakan, untuk mengubah atau meningkatkan status Gunung Merapi tidak hanya dilihat dari satu unsur saja seperti kegempaan, namun juga perlu mempertimbangkan sejumlah aspek lain, seperti deformasi dan juga hasil pengamatan visual.

Khusus untuk pengukuran suhu, lanjut Sri, pihaknya belum bisa melakukan pengukuran, karena lapangan solfatara di Woro yang biasanya menjadi lokasi pengukuran sudah tidak ada lagi.

"Lapangan itu sudah hancur setelah letusan Merapi pada 2010, sehingga kami pun belum bisa melakukan pengukuran suhu," lanjutnya.

Ia pun mengatakan, masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasanya, namun tetap harus mewaspadai material-material lepasan yang cukup banyak dijumpai di sejumlah lokasi di gunung tersebut.

"Begitu pula untuk pendakian. Pendaki juga tetap harus mewaspadai material-material lepasan ini. Pascaerupsi 2010, masih cukup banyak material lepasan di puncak gunung," katanya.

Bukaan kawah yang mengarah ke sisi selatan, lanjut dia, juga tetap harus menjadi kewaspadaan masyarakat yang tinggal di sisi gunung tersebut.

Berdasarkan pemantauan dari Pos Pengamatan Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, aktivitas Merapi pada 30 Januari hingga 5 Februari tercatat sebanyak 15 kali gempa multifase, 12 kali gempa tektonik, satu kali gempa dangkal.

Sedang pada 6-11 Februari tercatat sebanyak lima kali guguran, 208 kali gempa multifase, dua kali gempa tektonik, tujuh kali gempa dangkal dan dua kali gempa dalam.

Sementara itu, dari Pos Pengamatan Babadan Magelang pada 7 Februari tercatat sebanyak 17 kali gempa multifase, kemudian meningkat menjadi 63 kali pada 12 Februari.
(U.E013/H008)


Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.